Jika anda mencoba untuk mencari Desa Melung di mesin pencari Google, anda akan mendapati ragam julukan Desa Melung yang sebagian besar berkaitan dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). “Desa Internet”, “Desa Melek IT”, dan “Desa TIK” merupakan beberapa di antaranya. Anda pun akan mendapatkan berbagai macam liputan dari media massa arus utama yang mayoritas sudut pandang beritanya menitikberatkan pada aspek teknologi. Tengok situs berbagi video YouTube dan masukkan kata kunci “Melung”, di sana anda akan diantarkan pada daftar video yang menampilkan profil Desa Melung sebagai desa yang jauh dari perkotaan, namun penduduknya sudah memiliki kesadaran akan pentingnya pemanfaatan teknologi, khususnya TIK dalam pembangunan desa. Video profil dengan judul “Melung, Kisah Sebuah Desa Internet” adalah salah satunya. Beberapa media massa arus utama pun seakan berlomba untuk memberitakan kisah Desa Melung yang termasuk maju dalam pengelolaan TIK jika dibandingkan dengan desa-desa lainnya. Tercatat Metro TV, SCTV, dan TEMPO TV pernah membuat liputan tentang Desa Melung dari perspektif ini. Beragam testimoni di dunia maya dari orang-orang yang pernah berkunjung ke Desa Melung juga menyatakan apresiasi yang positif atas prestasi warga Desa Melung di bidang TIK. Hal ini dibuktikan melalui penghargaan yang diberikan Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dengan ditetapkannya Desa Melung sebagai Community Access Point dalam sebuah seremonial Festival DesTIKa tahun 2013 yang bertempat di Balai Desa Melung, Kab. Banyumas.
Namun jika anda berkunjung ke Desa Melung dari arah Utara/Timur yang berbatasan dengan Desa Ketenger, jangan heran jika anda disambut di perbatasan masuk ke desa ini dengan spanduk berwarna putih yang bertuliskan “Selamat Datang di Desa Melung Agrowisata dan Ekowisata”. Bahkan jika anda masuk ke Desa Melung dari arah selatan yang melewati Desa Kutaliman pun, anda tidak akan berjumpa dengan tulisan-tulisan semacam Agrowisata ataupun Internet. Jadi manakah identitas Melung yang sesungguhnya? Apakah identitas sebagai “Desa Agrowisata” seperti yang dapat kita temui di dunia fisik ataukah identitas sebagai “Desa Internet” atau “Desa TIK” seperti yang akan kita jumpai di dunia maya? Mana yang real dan mana yang virtual? Jika begitu, apa jati diri Desa Melung yang sebenarnya?
Apabila kita berbincang mengenai “diri” ada baiknya kita meminjam konsep tentang “diri” dari sudut pandang sosio-psikologis seperti yang pernah dituturkan oleh George Herbert Mead. Menurut Mead yang terkenal dengan bukunya Mind, Self, and Society (1934) dan dianggap sebagai pionir tradisi interaksionisme simbolik, “diri” manusia dapat dibagi menjadi dua: sebagai subjek (I-self) dan sebagai objek (me-self). Konsep memandang diri sebagai subjek adalah bagaimana kita berpikir tentang diri kita sendiri, sedangkan diri sebagai objek merupakan refleksi bagaimana kita dipandang oleh orang lain.
Melalui konsep diri ini, kita bisa melihat bahwa Desa Melung sepertinya menginginkan “diri”-nya memiliki identitas sebagai Desa Agrowisata. Hal ini dapat terlihat selain dari spanduk putih di gerbang masuk ke desa yang menyatakan diri seperti itu, juga dari halaman muka website Desa Melung <melung.desa.id> di mana terdapat banner sayuran organik di sisi sebelah kanan. Sebagai sebuah subjek, identitas inilah yang ingin ditampilkan oleh Desa Melung baik di dunia fisik maupun dunia virtual. Namun, sebagai sebuah objek, faktanya berbicara lain. Tampaknya publik tidak membaca identitas Desa Melung sebagai desa dengan ciri khas produksi sayuran organiknya. Keberhasilan Desa Melung di bidang pemanfaatan TIK menjadi objek yang sangat laku untuk dikonsumsi (baca: dijual). Baik itu orang perorang maupun sebagai institusi, mulai dari media massa arus utama sampai dengan Kemkominfo, mereka mengenal Melung sebagai Desa Internet yang melek IT. Identitas itulah yang disematkan kepada desa ini dari sudut pandang objek.
Penyematan ini tampaknya memengaruhi konsep diri desa ini. Status baru sebagai “Desa Internet” dari sudut pandang objek tampaknya beresonansi dalam diri Desa Melung sehingga “dipaksa” untuk mereformulasi identitasnya, karena publik menghendaki hal itu. Agaknya, kita bisa membaca ada konflik identitas di sini. Desa Agrowisata vs Desa Internet.
Namun begitu, kita dan juga warga Desa Melung sejatinya tidak perlu juga memaksakan diri menilai mana identitas yang seharusnya dan mana identitas yang ada sekarang. Dalam konsep diri yang dikembangkan oleh Mead, “diri” adalah “seperangkat identitas-identitas” yang sangat dipengaruhi oleh situasi. Oleh karena itu, “diri” dipandang sebagai identitas dalam artian jamak. Itu artinya, Desa Melung (dan juga manusia pada umumnya) dapat memiliki banyak identitas dalam waktu yang simultan/bersamaan. Baik sebagai Desa Agrowisata, Ekowisata dan juga sebagai Desa Internet. Aspek situasi yang akan menentukan identitas mana yang sebaiknya nanti dimunculkan. Sekarang, tugas Desa Melung bukanlah menyelesaikan konflik identitas, karena konflik itu bisa jadi tidak ada, tetapi menyelaraskan ragam identitas yang dimiliki Desa Melung sesuai dengan visi desa, karena desa ini sesungguhnya memiliki multi-identitas.

Melung, 5 November 2014
Dengan diiringi alunan suara gemericik air alam…

Subekti W. Priyadharma
Dosen Manajemen Komunikasi, FIKOM UNPAD, sedang menempuh Program Doktoral di University of Erfurt, Jerman