Manfaatkan Waktu Ronda Untuk Membuat Arang

Manfaatkan Waktu Ronda Untuk Membuat Arang

Dalam rangka menciptakan ketertiban dan keamanan lingkungan, wargaRT 02 RW 01 Desa Melung secara rutin mengadakan ronda malam. Kegiatan ronda malam hampir dilaksanakan oleh setiap RT yang ada di Desa Melung.

Tujuan diadakannya ronda malam adalah untuk menciptakan situasi dan kondisi yang aman, tertib dan tentram di lingkungan masing-masing. Terwujudnya kesadaran masyarakat dilingkungannya dalam penanggulangan terhadap setiap kemungkinan timbulnya gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Kegiatan ronda meliputi penjagaan dan patroli keliling guna mengetahui keamanan dan ketertiban lingkungan. Serta memberitahukan situasi baik kondisi aman atau kondisi bahaya dengan menggunakan kentongan.

Bukan saja berjaga dari gangguan ketertiban dan keamanan ronda juga bisa dijadikan sarana silaturahmi antar warga, yang mungkin jarang ketemu karena kesibukan masing-masing. Bercerita dan saling bertukar pikiran dalam pengetahuan dan pengalaman masing-masing.

Disaping itu untuk mengisi waktu ronda malam dimanfaatkan warga RT 02 RW 01 Desa Melung untuk membuat arang kayu. Pada prosesnya perapiaanya bisa untuk menghangatkan badan disepanjang malam yang dingin. Hasil arangnya bisa dijual.

Jika siang hari kalau ada orang menebang kayu, mereka (warga) mengumpulkan sisa-sisa tebangan yang tidak digunakan. Kemudian dikumpulkan didekat pos ronda. Malamnya petugas ronda yang membakar kayu tersebut menggunakan potongan drum kecil. Tutur Kartim selaku ketua RT 02 RW 01 Desa Melung.

Dalam semalam bisa menghasilkan kurang lebih setengah kandi arang yang kemudian dikumpulkan. Setelah banyak kami titipkan pada seseorang untuk dijual dipasar. Perkandinya dihargai Rp. 25.000,- (dua puluh lima ribu rupiah). Dalam sebulan kami pernah mendapat uang Rp. 650.000,- (enam ratus lima puluh ribu rupiah).

Dari penjualan arang tersebut kami pergunakan untuk operasional kegiatan ronda malam. Seperti membeli gula, kopi, teh dan juga kebutuhan pos ronda.

 

 209 total views,  16 views today

Pohon Randu dan Perubahan Mangsa

Pohon Randu dan Perubahan Mangsa

Tidak ada yang tau persis, tahun berapa pohon randu itu ditanam. Bahkan Suwarjo (80) penduduk setempat tak tahu kapan pohon itu ditanam dan siapa yang menanam.

Pohon randu yang berada di tepi jalan antara Melung-Kutaliman ini memang sudah ada sejak dahulu.
Bahkan konon menurut Sulastri (48) yang meupakan Kasi Pemerintahan Desa Melung, mengatakan “Sewaktu dari jaman saya SD dahulu (tahun 80 an) pohon randu itu sudah ada. Seingat saya pohon itu besar maupun tingginya hampir-hampir tidak berubah, sepertinya ajeg kaya itu”


Penduduk setempat menamakan pohon randu alas. Bisa dikatakan sebagai pohon bersejarah yang menyaksikan perkembangan Desa Melung dari tahun ke tahun. Pohon randu ini juga kerap menjadi momok bagi penduduk setempat,karena terkenal angker dan kata orang ada penunggunya.


Pohon randu ini juga kerap dijadikan patokan perhitungan mangsa, mangsa atau masa dimana para petani memulai untuk mengolah sawah. Salah satunya jika pohon randu buahnya mulai pentil (karuk), itu menandakan mangsa karo. Masa yang diyakini petani pada masa lalu itu baik untuk menanam jagung atau palawija yang lain. Petani pada masa itu menyebutnya duduh.


Pada mangsa ketiga ditandai dengan banyaknya burung-burung kecil yang mulai membuat sangkar, untuk tempat menetaskan telur. Perhitungannya kelak pada saatnya telur-telur burung ini menetas sudah tersedia banyak makanan untuk anak burung. Karena akan bertemu dengan mangsa sepuluh, masa dimana petani melakukan pemanenan.


Pada masa selanjutnya ketika buah pohon randu sudah mulai rentak (dikarenakan tua) itu merupakan pertanda sudah memasuki mangsa kapat (ditandai dengan buah kapuk randu njepat). Nanti kalau buah randu (kapuk randu) sudah mulai beterbangan dibawa angin, menandakan sudah memasuki mangsa kelima. Pada masa kalima, kanem adalah masa dimana petani melakukan tanam padi disawah.


Dengan harapan nanti akan menjumpai masa panen di mangsa kesepuluh. Panen ranteban, yaitu panen pada mangsa kesepuluh. Dengan perhitungan bahwa pada mangsa sewelas adalah puncaknya hama tanaman. Sehingga petani menghindari atau mengincar pada mangsa kesepuluh tanaman sudah dipanen. Panen pada mangsa kesepuluh juga berkeyakinan pada mangsa kesepuluh jika untuk panen itu hasilnya akan melimpah (kurang cangkang akeh isi).
Menurut Sukarto bahwa masa panen itu terbagi menjadi tiga periode. Jika panen pada mangsa rolas dan mangsa siji dinamakan panen sadon. Kemudian jika panen pada mangsa pitu disebut panen ulon-ulon.


Nah pada mangsa sewelas dan mangsa rolas ini ditandai dengan rumput tembagan sudah mulai berbunga. Ini sebagai tempat bagi lembing dan walasangit berpindah mencari makan, setelah petani memanen di mangsa sepuluh.


Tapi itu dahulu sebelum banyak perubahan atas perhitungan mangsa, dan pohon randu alas masih berdiri tegar dipinggir jalan menyaksikan perubahan jaman.

 

 350 total views

7.500 Ekor Bibit Ikan Dilepaskan Di Kali Manggis

7.500 Ekor Bibit Ikan Dilepaskan Di Kali Manggis

Sebanyak 7.500 ekor benih ikan dilepaskan di 3 sungai yang ada di Desa Melung. Jenis benih ikan yang ditabur adalah ikan Melem sebanyak 5.000 ekor dan Tawes sebanyak 2.500 ekor.  Kali dekem, Kali Putra dan Kali Manggis menjadi pilihan tempat untuk penaburan benih ikan. Penaburan benih ikan ini dilakukan untuk menjaga kelestarian ikan disungai agar populasinya tetap terjaga. (lebih…)

 799 total views

Mokal Kearifan Lokal Dalam Menggarap Sawah

Mokal Kearifan Lokal Dalam Menggarap Sawah

Sebuah kearifan lokal yang saling menguntungkan antara pemilik sawah dan buruh tani. Kearifan lokal itu bernama “Mokal”. Mokal adalah istilah yang sering dipergunakan untuk kesepakatan antara petani dan buruh tani. Sebuah kerjasama dalam mengelola lahan pertanian (sawah).

Kerjasama yang tidak pernah ditulis dalam sebuah surat perjanjian ataupun pernyataan. Walaupun tidak tertulis dalam perjanjian tetapi masing-masing bertanggungjawab dengan hak dan kewajibannya.

Jika petani (A) mempunyai lahan yang cukup luas dan ada buruh tani (B) yang mau membantu mengelola sawah, maka terjadilah sebuah kesepakatan (Mokal). Kesepakatan untuk melakukan kerjasama. Yang masing-masing bertanggungjawab terhadap kewajibannya.

Adapun kewajiban B adalah dalam menggarap sawah adalah mulai dari membuat pematang sawah (galengan), menanam (tandur) dan memanen. Setelah membuat galengan apabila dalam pengerjaan sawah tidak menggunakan alat baik kerbau ataupun mesin, (B) juga membantu dalam menggemburkan tanah sampai lahan siap tanam.

Jika dalam mengolah lahan menggunakan alat maka kewajiban (B) juga ikut serta dalam membantu mengolah lahan, yang bahasa daerahnya menduli.

Sementara tugas memupuk dan menyemprot adalah menjadi kewajiban (A) sampai dengan menjaga agar aliran air tetap lancar dan terjaga.

Sampai pada masanya panen tiba. Pembagian hasil panen berdasarkan adat kebiasaan yang berlaku. Misal dapat 100 Kg maka bagian untuk (B) adalah 20 Kg, sementara (A) mendapat 80 Kg.

 1,001 total views

Melirik Si Nyonya Menir

Melirik Si Nyonya Menir

Pakis merupakan tanaman liar yang dapat tumbuh dimanapun. Terutama pada daerah yang lembab. Banyak sekali jenis tanaman pakis, namun yang bisa dimasak atau untuk sayur ada tiga jenis yaitu pakis menir, teja dan pakis urang. Biasanya ketiga jenis tanaman pakis ini dapat dijumpai disekitar aliran sungai, atau tempat-tempat yang lembab. (lebih…)

 365 total views,  2 views today