Menjadi perangkat desa, sekarang menjadi pilihan pekerjaan. Karena adanya tambahan penghasilan yang dianggap layak untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

Apalagi dengan adanya peraturan yang memberikan kelonggaran terhadap warga negara bukan lagi terbatas warga desa setempat.

Berbeda dengan dahulu perangkat desa dipilih berdasarkan atas pengabdian, dan orang tersebut memang dipandang layak untuk menjadi perangkat desa atas ketokohannya.

Sehingga pengabdian perangkat desa benar-benar tulus untuk mengatur, membangun dan melaksanakan kegiatan roda pemerintahaan desa. Banyak pengorbanan yang harus dilaluinya. Hal itupun selaras dengan kondisi di masyarakat. Sehingga masyarakatpun patuh apa yang ditugaskan oleh perangkat desa pada masa itu.

Untuk mengadakan konferensi (istilah untuk rapat pertemuan) tingkat Kecamatan mereka harus berjalan kaki tidak kurang dari 8 km. Menembus jalan yang berbatu, diterik matahari serta menahan haus dan lapar, belum lagi apabila hujan datang.

Itupun masih harus juga melakukan ronda di kecamatan. Sementara masih banyak lagi seabreg tugas menjadi perangkat desa.

Penghujung karier perangkat desa yang notabene dengan pendidikan rata-rata masih lulusan Sekolah Dasar apa yang didapat sungguh tidak dalam kelayakan. Masa pensiun yang hanya mendapatkan 10% dari bengkok yang didapat selama bertugas tanpa ada tambahan lainnya selama 10 tahun. Mustahil untuk mendapatkan kelayakan hidup pada masa sekarang ini.

Usai pensiun para pejuang yang sudah sepuh ini kembali menghadapi tantang hidup. Mereka berjuang untuk diri sendiri dan keluarg. Dengan sisa tenaga yang ada mengolah lahan pertanian atau terpaksa menjadi buruh.