Keberadaan Desa Melung yang berbatasan langsung dengan hutan negara dan memiliki petak pangkuan hutan seluas 318 Ha. Tentu hal ini menjadi salah satu potensi untuk bisa mensejahterakan masyarakatnya. Petak pangkuan hutan ini digunakan oleh masyarakat yang sebagian besar bermata-pencaharian sebagai petani, untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Disamping sebagai petani memelihara ternak juga menjadi usaha sambilan bagi masyarakat Desa Melung terutama ternak sapi dan kambing. Rata-rata warga masyarakat Desa Melung mempunyai ternak terutama kambing. Pekerjaan sebagai petani tidak membuat masyarakat kerepotan untuk membagi waktu dengan usaha sambilannya sebagai peternak.

Ketersediaan lahan rumput dan dekatnya sumber daya alam sehingga masyarakat tidak merasa repot ketika harus menyediakan pakan ternak. Dalam waktu satu setengah jam saja masyarakat Desa Melung bisa mendapatkan satu pikul rumput. Dan kerjasama anatar anggota keluarga juga saling mendukung, sehingga ketika sang kepala keluarga tidak sempat mencari rumput bisa digantikan oleh anak bahkan oleh istrinya. Kebutuhan akan daging kambing dari tahun ke tahun juga meningkat, apalagi kalau menjelang lebaran haji.

Kotoran kambing juga dapat digunakan sebagai pupuk alami, untuk menyuburkan tanah pertanian yang mereka miliki.  Dan biasanya masyarakat Desa Melung yang mempunyai ternak (kambing) banyak akan menjual separo kotoran tersebut atau semuanya.  Tentunya ini akan menambah pendapatan dari sisi ekonomi, dalam satu kantong kecil (kandi bulog) masyarakat biasa menjualnya seharga Rp. 1.500,- (seribu lima ratus rupiah).

Dan jika sewaktu-waktu ingin menjual kambing atau ternak yang lain masyarakat Desa Melung juga tidak perlu repot untuk mencari pembeli. Pembeli atau pedagang baik dari dalam desa maupun luar desa setiap hari selalu ada dan siap melakukan transaksi jual beli kambing. Kalau melihat kondisi seperti ini semestinya berternak bisa menjadi sebuah usaha pokok bukan sebagai usaha sambilan.

Sayangnya masyarakat tidak mempunyai posisi tawar dan selalu tertindas, baik dalam penjualan maupun pembelian. Kalau mau membeli pasti pedagang akan bilang harga lagi naik, begitupun kalau mau menjual pedagang juga akan bilang harga kambing lagi turun. Permainan harga seperti ini sudah merupakan hal yang biasa dan dianggap lumrah. Masyarakat seperti tidak mempunyai pilihan lain dalam penjualan karena terdesak dengan kebutuhan hidup.

Hal inilah yang kemudian menjadikan usaha beternak kambing atau sapi menjadi usaha sambilan karena memang ketidak pastian dalam penjualan ataupun pembelian.