Menjadi Indonesai

S.B. Margino tampil di UNSOED

Generasi muda adalah generasi penerus perjuangan bangsa, ditangan merekalah nasib bangsa ini bergantung. Maka sudah selayaknya dipersiapkan dari sedini mungkin untuk menciptakan sebuah generasi yang berkualitas.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh Tempo Institute adalah dengan cara mengajak seluruh mahasiswa se – Indonesia untuk menuangkan buah pikiran mereka melalui lomba menulis esai dengan mengambil tema “Menjadi Indonesia”. Bagaimana sudut pandang mahasiswa terhadap persoalan bangsa ini dan bagaimana cara mahasiswa mencari solusi terhadap persoalan yang sedang dihadapi yang tentunya ini berangkat dari pengamatan yang ada disekitar lingkungan mahasiswa. Seperi disampaikan oleh Mardiyah Chamim dalam workshop sehari yang dilaksanakan di Fakultas Pertanian, Universitas Jendral Soedirman pada Rabu 26 September 2012.

Workshop yang dihadiri lebih dari 300 mahasiswa dengan narasumber tunggal dari Tempo Institue (Mardiyah Chamim). Gerakan Desa Membangun diwakili oleh S.B. Margino yang hadir pada worksop juga diberikan waktu untuk berbagi cerita apa yang sudah dilakukan oleh desa-desa yang tergabung dalam gerakan desa membangun di wilayah Banyumas. Bahwa desa merupakan ujung tombak dari sebuah pemerintah yang baik, karena desa merupakan sumber data. Oleh karenanya jikalau data-data yang ada di desa itu tepat maka dengan sendirinya para pengambil atau penentu kebijakan bisa tepat dalam mengambil keputusan terkait dengan pembangunan yang ada di desa, begitupun sebaliknya. Persoalan data bukan saja sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil sebuah keputusan akan tetapi merupakan kebutuhan yang mesti di carikan jalan keluarnya.

Untuk itu kemudian desa-desa yang tergabung dalam gerakan desa membangun dengan dibantu relawan TIK membuat suatu sistem untuk mengelola dan mengolah data-data yang ada di desa. Sebuah sistem yang di beri nama Mitra Desa, dimana dalam sistem tersebut akan sangat membantu dalam pelayanan terhadap warga masyarakat. Sistem berbasis NIK (Nomor Induk Kependudukan).

Barangkali setelah mendengarkan cerita dari kawan-kawan gerakan desa membangun ini bisa menjadi inspirasi untuk para mahasiswa untuk menuliskan sebuah esai. Bagaimana desa melakukan sebuah terobosan untuk kemajuan desa pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Komentar yang disampaikan oleh Mardiyah Chamim untuk menegaskan bahwa untuk menjadi Indonesia banyak sekali cara yang bisa ditampilkan dan tanpa harus menjadi seorang pemimpin.  Sudah dapat dibuktikan orang-orang desa yang berada di hutanpun kini mampu dan peduli dengan bangsanya.  Bagaimana dengan Mahasiswa sekarang ?

Bahwa yang membedakan antara Siswa dan Mahasiswa terletak pada tingkatan berpikirnya. Kalau Siswa dalam mengasah pikirannya adalah dengan cara menyelesaikan sebuah persoalan yang sudah barang tentu sudah ada jawabannya. Sedangkan Mahasiswa dalam berpikirnya adalah mencari sebuah permasalahan yang mesti dijawab atau dicarikan jalan keluarnya melalui pengamatan dan penelitian. (Di sadur dari buku M. Hatta)