Agung Budi Satrio Kepala Desa MelungMenjadi perangkat  desa terlebih lagi menjadi kepala desa boleh di ibaratkan seperti ikan di dalam aquarium.   Segala tingkah lakunya akan dengan mudah atau gampang untuk diamati oleh masyarakat baik tindakan yang benar maupun yang melenceng.   Bukan perkara mudah untuk dapat menjadi pemimpin walaupun tatarannya hanya berada di tingkat desa.  Apalagi menjadi kepala desa pada sebuah desa terpencil seperti Desa Melung.

Agung Budi Satrio, adalah Kepala Desa Melung yang mulai menjabat sebagai Kepala Desa Melung dari tahun 2002 sampai sekarang.  Walaupun merupakan pendatang dan bukan warga asli Desa Melung namun perjuangannya dalam upaya memajukan Desa Melung tidak diragukan lagi.  Hal ini setidaknya ditunjukan oleh masyarakat yang mempercayakan untuk memimpin Desa Melung untuk periode ke dua (tahun 2007-2013).

“Kalau bicara mengenai lurah khususnya Pak Budi, saya rasa inilah pemimpin yang benar-benar pemimpin yang diharapkan oleh masyarakat Desa Melung selama ini, tegas, jujur dan juga tepat dalam mengambil keputusan.  Dan yang saya sangat kagumi dari Pak Budi adalah wawasanya luar biasa sangat luas dan mumpuni dalam semua bidang”  seperti diceritakan oleh Sudarso (43) yang merupakan BPD Desa Melung.

Lebih jauh Sudarso menceritakan sepak terjang Agung Budi Satrio sebagai Kepala Desa Melung :

Dalam upaya menciptakan kesejahteraan masyarakat, berbagai cara telah ditempuh dan diperjuangkan oleh Pak Budi, yang dalam membangun Desa Melung lebih ke hal-hal yang sifatnya non-fisik.  Penguatan sumber daya manusianyalah yang lebih diutamakan karena manusia sebagai perencana dan pelaku dalam setiap pembangunan.

Saya masih ingat pada saat beliau menjabat untuk pertama kalinya sebagai kepala desa   beliau langsung merintis adanya sekolah untuk anak-anak usia dini (TK).  Dan setelahnya dalam mencerdaskan sumberdaya manusia berturut-turut dari mulai kejar paket A, paket B dan juga paket C diadakan di Desa melung untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat yang belum merasakan pendidikan tersebut.  Tidak hanya itu sekolah lanjutan petama (SMP) yang kalau dahulu kita harus menempuh perjalanan minimal 7 km untuk dapat merasakan pendidikan SMP, kini hal itu sudah tidak berlaku lagi karena sudah ada SMP Negeri 3 Kedungbanteng yang berada di Desa Melung.

Dalam setiap permasalahan yang dihadapi oleh desa selalu mengedepankan musyawarah, padahal kalau saya amati sebenarnya beliau ini sudah mempunyai jawaban atau tindakan untuk mengatasi masalah yang ada.  Dan ini menjadi pembelajaran bagi saya khususnya dan masyarakat pada umumnya.  Melalui analisanya yang menurut saya njlimet, akan tetapi saya jadi tahu bahwa, kalau harus memilih jawaban a misalnya resiko dan keuntungannya akan seperti ini dan sebaliknya, sehingga kita selaku masyarakat akan bisa memilih atau memutuskan yang terbaik untuk desa kami, lebih jauh Sudarso menjelaskan gaya kepemimpinan Agung Budi Satrio.

Bukan itu saja Mas, yang sangat saya banggakan dari beliau adalah mengubah Desa Melung yang kalau dahulu kita untuk mengakui Melung sebagai desanya akan malu.  Karena memang Desa Melung itu dulu citranya sangat tidak menyenangkan dan tidak punya apa yang bisa dibanggakan.  Tetapi dengan Pak Budi menjadi pemimpin apalagi sekarang kita akan dengan bangga menyebut “Melung” ketika orang bertanya dari mana asal atau desanya.