kunjungan siswa smk ke desa melung

Siswa SMK Komputer dan Jaringan studi banding ke Desa Melung

Para siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jurusan Komputer dan Jaringan melakukan studi banding ke Desa Melung (20/2/2013). Rombongan berjumlah delapan siswa itu berasal dari SMK Muhammadiyah Sumpiuh dan SMK Panca Bakti Banjarnegara. Mereka belajar tentang penerapan internet dan sistem informasi desa yang ada di Desa Melung.

Kunjungan itu merupakan rangkaian dari Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Gedhe Foundation, Purwokerto. Para siswa belajar sistem jaringan radio wireless yang dipergunakan oleh Desa Melung untuk membagi akses poin pada warga-warga yang memanfaatkan internet dari balai desa. Selain itu, mereka ingin mengetahui strategi Desa Melung dalam pengelolaan website dan pelayanan administrasi warga yang sudah terkomputerisasi.

Rombongan siswa didamping oleh Yossy Suparyo (Direktur Gedhe Foundation) dan Pri Anton Subardio (Tim Ahli Teknologi Informasi dan Komunikasi). Kunjungan selama sehari itu diterima oleh M Soim Fatkhurrohim (Sekretaris Desa) dan Suritno Bambang Margino (Kepala Urusan Keuangan). Selanjutnya, Pemerintah Desa Melung menceritakan ide dan perjalanan penerapan internet di dunia perdesaaan.

Soim, panggilan akrab M Soim Fatkhurrohim, mengaku pemanfaatan teknologi informasi diawali dengan pemasangan telepon seluler berbasis CDMA pada 2009. Sebelumnya, pemerintah desa tidak memiliki fasilitas dukungan komunikasi telepon. Setelah pemasangan telepon seluler warga bisa melakukan komunikasi dengan balai desa menggunakan telepon.

M. Soim Fathurrohim, Sekretaris Desa Melung tengah jelaskan Sistem Informasi Desa

Setelah itu muncul kebutuhan akses internet. Untuk memenuhi kebutuhan itu ada kendala yang dihadapi oleh pemerintah desa, yaitu tidak ada akses telepon kabel ke balau desa. Telepon kabel hanya bisa diakses di warga yang tinggal di pinggir desa yang berbatasan langsung dengan Kantor Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ketengger. Maka agar balai desa bisa mengakses internet dicoba teknologi radio wireless dengan memasang antena di kantor desa.

Meski cukup rumit, cara itu berhasil menjawab kebutuhan internet di kantor desa. Namun, sebagian besar pemanfaatan internet hanya sekadar untuk surat-menyurat dan mengakses informasi dari dunia luar. Pada 2011, muncul inisiatif mengembangkan website desa untuk mempublikasikan kondisi Desa Melung ke dunia luar. Dampaknya, mulai banyak kunjungan pihak luar ke desa untuk beragam keperluan, dari penasaran, studi banding, hingga kunjungan kerja.