Sembari mengerjakan tugas akhir mengenai GDM, biasanya saya menyelinginya dengan menonton serial Ramadhan Omar. Alasannya, supaya tidak mengantuk (walaupun pada akhirnya jadi keterusan nonton…he.. he.. )! Serial Omar mengisahkan tentang perjalanan hidup Umar bin Khattab, salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW.

Dalam serial tersebut, dikisahkan bagaimana Madinnah menyambut baik kedatangan Rasulullah SAW yang hendak berhijrah. Tak hanya menyambut baik kedatangan Rasulullah SAW, mereka juga menyambut Rasulullah SAW sebagai imam pemerintahan mereka. Padahal, sang Nabi bukanlah “putra daerah” Madinah.

Pada perkembangan Islam selanjutnya, di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, pasukan Islam membebaskan Suriah, Palestina, dan Mesir dari cengkraman Romawi.

Kekaisaran Romawi Byzanthium dikenal sebagai bangsa yang memaksakan doktrin keagamaan pada masyarakat yang dipimpinnya. Yang berbeda keyakinan: syiikatttt!

Sedang ketika Islam membebaskan mereka, keadaannya berbalik. Islam justru mempersilakan penduduk ketiga wilayah tersebut menganut keyakinan mereka masing-masing. Pengelolaan pemerintahan, keadilan, hukum, dijalankan dengan penuh kewaspadaan oleh gubernur muslim yang menjabat atas dasar hukum Islam. Yang terdipimpin pun tak merasa sedang dijajah.

Saya ambil satu contoh yang bagi saya amat menjelaskan bukti betapa adilnya Islam jika dijalani oleh Muslim bertakwa. Seorang kristen Qibti jelata di Mesir yang merasa terhina karena dipukul oleh anak gubernur Mesir, Amr bin Ash pun difasilitasi haknya untuk balas dendam.

Pada saat itu sang Qibti dan putra gubernur, Muhammad bin Amr tengah bertanding balapan kuda. Yang menjadi pemenang adalah sang Qibti. Merasa harga diri sebagai anak pejabat tersaingi, kontan Muhammad memukul sang Qibti dengan tongkat.

Sang Qibti, yang merasa dihujani ketidakadilan, akhirnya pergi ke Madinah dan melaporkan hal ini kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khattab r.a. Umar pun marah mendengar hal ini dan menyuruh Amr bin Ash dan anaknya ke Madinah. Sesampainya mereka di Madinah, Umar menyerahkan tongkatnya kepada sang Qibti dan berkata:

“Pukul anak gubernur itu!”

Sang Qibti pun melakukannya hingga puas. Tak berhenti hingga di situ. Umar menambahkan, “Sekarang, arahkan tongkat itu kepada Amr! Demi Allah, kalau dia bukan putra bangsawan (Amr) dia tidak akan berbuat seperti itu!”

Amr pun kaget bukan main. Namun, rupanya qibti mesir ini pun tak sampai hati jika harus pula memukul imam wilayahnya sendiri. Akhirnya ia berkata, “Bagiku, memukul orang yang memukulku sudah cukup!”

Menyimak kisah-kisah kepemimpinan yang adil dalam film Omar, saya jadi teringat ketika saya mewawancarai Pak Agung Budi Satrio, Rabu (4/6) lalu. Beliau menyebut karakter Desa Melung yang pada hakikatnya terbuka dengan orang luar.

Mereka tidak memaksakan bahwa pemimpin mereka harus asli dari desa mereka dan semacamnya. Bahkan, Pak Budi yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa Melung hingga 2013 merupakan penduduk Jakarta pada awalnya. Pak Khoerudin, Kepala Desa Melung kini berasal dari Cilacap. Keduanya bukan berasal dari kabupaten dimana Desa Melung berada, Banyumas.

“Masyarakat Desa Melung berpendapat, yang penting kepala desa yang berasal dari luar tersebut bisa mensejahterakan mereka…,” ungkap Pak Budi. Walhasil, ketika Pak Budi memimpin Melung dan beragam inovasi untuk desa, termasuk inovasi TIK yang ia gagas pun tak menemui kendala yang berarti dari masyarakatnya sendiri.

Mental masyarakat Madinah rupanya tersimpan pula dalam semangat pembaharuan warga Desa Melung ya. Hihi.