Ilustrasi Gamelan

Melung 29/1/2013,  Paguyuban “Mudo Laras” merupakan sekelompok masyarakat Desa Melung yang peduli dengan adanya kesenian tradisional khususnya seni gamelan.  Kepeduliannya terhadap seni gamelan sebagai salah satu kebudayaan jawa, mereka wujudkan dengan mengadakan pentas seni dua kali dalam seminggu.  

Paguyuban ini sebenarnya sudah sejak lama ada, namun secara resmi membentuk sebuah kelompok dan di beri nama baru pada akhir bulan Agustus tahun 2012.  Hal tersebut  karena memang pada awalnya hanya sebatas menyalurkan kegemaran (hoby) untuk bermain alat musik tradisional (gamelan).  Namun seiring berjalannya waktu kemudian mereka bersepakat untuk membentuk sebuah paguyuban.  Kebersamaan dan juga rasa gotong royong dan juga kepedulian terhadap seni gamelan menjadikan alasan untuk membentuk sebuah paguyuban.

“Disamping karena memang hoby tujuan kami mengadakan pentas seni gamelan adalah untuk menjaga (nguri-uri) kesenian jawa (kebudayaan) khususnya seni gamelan.  Dan berharap dengan adanya pentas seni gamelan ini akan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kesenian maupun kebudayaan khususnya budaya jawa” Seperti disampaikan oleh Suwarjo selaku ketua paguyuban mudo laras.

Aksi Bule Bermain Gamelan

“Jangan sampai budaya warisan leluhur nenek moyang kita  menjadi sesuatu yang asing bagi kita, karena sekarang malah banyak orang-orang bule yang kepengin dan mau mempelajari seni gamelan.  Dan saya juga pernah menyaksikan orang bule trampil dalam memainkan alat musik gamelan bahkan sampai dalam mendendangkan tembang-tembangnya. Dan mudah-mudahan ini bisa menjadi motifasi bagi anak muda sekarang”  Begitu wejangan yang disampaikan oleh Sudarso salah satu tokoh masyarakat Desa Melung yang juga anggota Paguyuban “Mudo Laras”.

Banyaknya anak muda yang lebih cenderung dengan sesuatu yang berbau modern dan menganggap bahwa kesenian tradisional adalah sesuatu yang kuno , hal inilah yang kemudian membuat rasa khawatir akan hilangnya budaya jawa.  Rasa khawatir inilah yang melatarbelakangi terbentuknya paguyuban “Mudo Laras”.   Walaupun tidak semua generasi muda berpandangan demikian, hal ini dibuktikan dengan adanya banyak siswa sekolah yang aktif dalam mengikuti pelatihan gamelan.

Siswa sekolah yang mengikuti pelatihan gamelan ini rata-rata masih berusia belasan tahun yang kebanyakan masih sekolah baik di SD (Sekolah Dasar) maupun SMP (Sekolah Menengah Pertama).  Dan untuk pelatihan gamelan bagi anak-anak dilakukan satu kali dalam seminggu, dan waktunya adalah malam minggu, jadi tidak menggangu aktifitas belajar mengajar.