Bencana tidak akan diharapkan oleh masyarakat, karena sekecil apapun bencana akan membawa kerugian baik materi maupun jiwa. Namun bencana alam tidak dapat dihindari dan akan selalu menghantui warga. Terlebih bagi warga masyarakat yang terpaksa hidup di daerah rawan bencana karena persoalan tempat tinggal. Bencana alam itu baru disebut bencana apabila ada kerugian materi maupun jiwa yang diakibatkan proses kejadian alam. Karena proses kejadi aliran lava secara periodik akan mengakibatkan bencana apabila berdampak yang sangat besar, sebagai contoh terjadinya longsor yang merupakan kejadian alamiah, hanya saja proses percepatan juga dapat disebabkan oleh manusia, seperti hutan yang gundul.

Dari persoalan tersebut maka bagi warga desa yang hidup pada daerah rawan bencana wajib mengenal dan mengetahui tentang kebencanaan yang ada oleh karena itu kegiatan pelatihan penanggunglangan bencana kerjasama antara Pemerintah Desa, BPBD Kabupaten Banyumas dan MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) Purwokerto, berlangsung sejak tanggal 28 Oktober 2013, dimulai dari teori tentang kajian kebencanaan, pemetaan desa sampai dengan simulasi pada saat bencana terjadi. Berbagai pengetahuan tentang bencana sudah didapat dari warga, sehingga diharapkan apabila bencana terjadi warga sudah siap menghadapinya. Adanya tim FPRB (Forum Pengurangan Rasiko Bencana) yang terbentuk mewakili wilayah gerumbul.

Desa Melung Kecamatan Kedungbanteng dengan jumlah penduduk 2.286 jiwa berada dikaki Gunung Slamet, dengan topografi yang berbukit. Ciri umum bencana yang terjadi di lereng gunung slamet adalah erupsi, gempa termor akibat letusan gunung, dan wilayah desa melung masuk dalam daerah aliran lava yang mengalir ke sungai banjaran juga masuk dalam zona 1 rawan bencana apabila terjadi letusan gunung Slamet. Adalagi kebencanaan yang senantiasa hadir di sekitar lereng Gunung Slamet berupa angin ribut, tanah longsor.

Pelatihan ini menjadi hal yang sangat penting bagi sebuah desa terkait kemampuan warga untuk mengenal tentang kebencanaan, mulai dari ciri kebencanaan, proses, sampai dengan bagaimana pengurangan resiko bencana. Bahkan sampai penyusunan peta jalur evakuasi korbandan pengungsian.

Simulasi ini melibatkan banyak pihak mulai dari polsek, koramil, satpol PP, sampai dengan Puskemas. Dengan harapan kesiapan tidak hanya warga desa saja tetapi bagaimana koordinasi antar instansi pemerintah turut dilatih. Karena banyak kejadian justru kurangnya koordinasi antar lembaga yang membuat banyaknya jatuh korban, disaat masyarakat gugup dan kalut dalam menghadapi bencana. Disamping kesimpang-siuran berita terkait masalah korban juga sangat penting untuk mendapat pelatihan ini.