@kangmarginoMelung 2 Desember 2012,  Dalam rangka menyambut acara ruwat desa yang akan dilaksanakan tanggal 6 – 7 Desember 2012 warga masyaraakat Desa Melung beberapa hari nampak mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.  Mulai dari kebersihan lingkungan maupun mempersiapkan berbagai macam sesaji untuk acara ruwatan.  Ruwat bumi atau juga biasa disebut dengan sedekah bumi merupakan tradisi adat istiadat turun temurun yang sudah dilakukan oleh masyarakat Desa melung pada khususnya dan masyarakat Jawa pada umumnya.

“Ruwat bumi merupakan perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia yang telah diberikan kepada kita semua, ruwat berasal dari kata “luwar” yang berarti terbebas atau terlepas.  Maksud diselenggarakanya acara ruwat ini agar yang diruwat bisa terlepas dari sukerta, aib dan juga malapetaka” seperti dituturkan oleh Sumarjo (67) salah satu warga Desa Melung.

Acara ruwat bumi yang diselenggarakan oleh masyarakat Desa Melung tidak terlepaskan dengan gelaran wayang kulit yang mengangkat cerita tentang “Semar Mbangun Kahyangan”, dengan dalang Ki Teguh dari Pabuwaran dan juga Ki Bambang Asmoro dari Kominfo.   Ruwat yang biasanya diikuti dengan pagelaran wayang kulit dalam cerita turun-temurun dimaksudkan untuk mengusir segala roh-roh jahat, karena wayang kulit bisa diartikan sebuah kehidupan.  Hakekatnya dunia pewayangan adalah bayangan dunia nyata, yang didalamnya ada mahluk-mahluk Tuhan.

Rangkaian acara kegiatan ruwat bumi nantinya akan dilanjutkan dengan acara peringatan 1 tahun berdirinya gerakan desa membangun.