Kemandirian merupakan kunci kesejahteraan petani, meliputi penguasaan teknologi tepat guna, pengadaan sarana pertanian seperti pupuk dan obat-obatan serta pemasaran.  Bagi petani, bertani secara organik adalah kunci untuk mewujudkan kemandirian yang berarti mencapai kesejahteraan. Pemikiran inilah yang melandasi munculnya cita-cita untuk membangun Desa Organik.  Dipimpin langsung oleh Kades Melung Budi Satrio, masyarakat digerakkan untuk secara bertahap merubah pola tanam konvensional menjadi organik. Memang tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan untuk bertani organik.  Hampir semua petani sudah tidak lagi percaya diri bahwa dengan membuat pupuk sendiri, membuat pestisida nabati sendiri akan mampu mendapatkan hasil yang bagus. Selama puluhan tahun, para petani sudah dikondisikan bergantung dengan pupuk dan pestisida kimia yang semua itu butuh modal yang tidak  sedikit.
Kegiatan bertani organik dimulai sejak 2004 oleh Kades, istri beserta kerabat sendiri di pekarangan rumah.  Dengan hasil yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur sendiri.Kemudian datang Subekti, seorang lulusan Biologi UNSOED yang telah mendedikasikan cita-citanya untuk menjadi petani mandiri.  Beberapa tahun kegiatan ini tidak mendapat respon hingga akhirnya secara perlahan pemahaman masyarakat mulai dapat menerima konsep bertani organik.

Pada awal Nopember 2009 lalu, Melung mendapat kucuran program untuk meningkatkan kegiatan pertanian organik ini.  Hanya dengan modal 70 juta rupiah, dibangun sebuah green house di lahan desa dan membuat lahan contoh seluas 2 hektar.

Dengan efisiensi yang sangat ketat karena minimnya dana, pengusahaan kebun sayur organik ini dilaksanakan secara gotong royong oleh anggota Pager Gunung.  Hal yang paling berat adalah aspek pemasaran karena kota terdekat adalah Purwokerto, notabene kota kecil yang belum siap menerima sayur organik karena dianggap lebih mahal.

Dengan memberanikan diri, Pager Gunung meloby manajer beberapa supermarket atau  swalayan terkemuka di Purwokerto agar menerima sayur organik dari Pager Gunung dan diizinkan.  Omset yang tidak menentu dan belum siapnya pasar membuat sayuran seringkali kembali dalam kondisi sudah layu atau membusuk.

Akan tetapi hal tersebut tidak membuat patah arang.  Dengan berbagai upaya sosialisasi di sekitar outlet Pager Gunung tentang perlunya hidup sehat dan mengkonsumsi makanan yang bebas kimia, lambat laun omset semakin naik.  Sayur yang dipajang seringkali habis tak tersisa.

Dalam kurun 6 bulan sejak dipasarkan, Pager Gunung sudah memiliki omzet 200 ribu setiap harinya dan meningkat secara nyata.

Selain memasarkan sayur organik, Pager Gunung juga mulai memprogramkan  wisata pertanian dengan mengundang berbagai pihak terutama sektor Pendidikan Dasar.  Konsep wisata ini selain sebagai refreshing para siswa SD, juga sebagai bagian dari pendidikan lingkungan dan mendidik gaya hidup sehat sedari kecil.  Meski masih terkesan asing, wisatawan sudah mulai sering mengunjungi kebun organik Pager Gunung.

Ujian tidak berhenti sampai disitu.  Menjelang lebaran tahun 2010, angin puting beliung melanda sebagian lereng selatan Gunung Slamet dan memporakporandakan Green House yang sudah terbangun dengan jerih payah masyarakat.  Kerugian hampir 5 juta karena atap green house hanya terbuat dari lembaran plastik yang mudah robek terkena beliung.

Selain kerusakan green house, banyak sayuran yang mati lanas akibat curah hujan yang sangat tinggi.
Akan tetapi itupun tidak menyurutkan langkah untuk tetap berpegang pada cita-cita membangun desa organik.
Dengan gotong royong pula, kerusakan dibenahi dan penanaman kebun sayur organik dimulai lagi dari awal.
Saat ini, meskipun sisa dari kerusakan tersebut belum terbenahi seluruhnya, kebun sayur sudah kembali beroperasi dengan lancar.  Bahkan, masyarakat Melung sudah mulai memanfaatkan pekarangan masing-masing untuk bertanam sayur untuk menutup kuota yang masih belum mampu dipenuhi dari kebun Pager Gunung.
Harapan semua masyarakat, dengan meningkatnya produksi sayur organik Desa Melung, semakin meningkat pula kesadaran masyarakat untuk bertani secara mandiri dan terbebas dari ketergantungan pupuk dan obat-obatan kimia.
Harga yang masih di atas sayur berpestisida, sebenarnya lebih merupakan penghargaan atas upaya penyelamatan lingkungan hidup dan upaya menyehatkan masyarakat.  Kesemuanya itu tidak seimbang jika dibandingkan dengan biaya pengobatan yang muncul akibat tumpukan residu kimia dalam jaringan tubuh sehingga berbagai penyakit seperti kanker mudah menjangkit.
Semoga impian masyarakat Desa Melung untuk menjadi petani mandiri akan segera terwujud.  Peran berbagai pihak terutama masyarakat konsumen sayur organik sangat kami butuhkan.
Mari secara gotong royong mewujudkan kesejahteraan petani sekaligus mewujudkan masyarakat yang sehat, terbebas dari racun pestisida (A.H. Wahyudi).