Ternyata bukan hanya makanan ataupun minuman saja yang membuat orang akan menjadi bosan kalau setiap hari menunya tidak pernah berubah. Begitu juga dengan program kalau setiap tahunya program itu hanya berkutat pada satu kegiatan lama kelamaan masyarakatpun mengalami kebosanan bahkan jenuh. Meskipun namanya berganti-ganti setiap tahun dari tahun 2001 yang disebut dengan PPK (Program Pengembangan Kecamatan) sampai dengan sekarang berganti nama PNPM Mandiri Perdesaan, namun kegiatanya hanya bertumpu pada satu kegiatan yaitu pada pembangunan fisik, lama kelamaan masyarakat juga bosan karena dari kegiatan ini ternyata belum bisa membawa perubahan yang cukup berarti dilingkungan masyarakat bahkan hilang tanpa bekas karena tidak adanya pemeliharaan meskipun sebenarnya setiap melakukan kegiatan pembangunan sekaligus juga dibentuk yang namanya Tim Pemelihara.

Meskipun dalam program ini juga ada kegiatan SPP (Simpan Pinjam Perempuan) namun itu semua juga belum bisa menjawab ataupun menyelesaikan permasalahan dimasyarakat justru malah menambah persoalan baru ditingkat masyarakat atau kelompok peminjam, karena hampir semua pemanfaat SPP dikelompok masih bersifat konsumtif jangankan untuk mengembangkan modal tersebut untuk membayar cicilanpun tersendat bahkan macet karena tidak adanya bekal ilmu yang diberikan kepada peminjam.

Berawal dari semua pengalaman ini pelaku PNPM Mandiri Perdesaan mengadakan Pelatihan bagi Kepala Desa, BPD dan LPMD untuk wilayah kecamatan Karanglewas dan Kecamatan Kedungbanteng. Pelatihan tersebut berlangsung di Rumah Makan Cipta Rasa Purwokerto (23 Oktober 2012). Salah satu tujuannya adalah merubah pola pikir pelaku PNPM yang selama ini menganggap bahwa yang namanya pembangunan itu identik dengan kegiatan fisik meskipun sebebenarnya makna dari sebuah pembangunan itu sangat luas. Bukan hanya sekedar membangun jalan, gedung dan lain sebagainya namun lebih dari itu yang lebih penting adalah membanguan sumber daya manusianya.

Sebagai nara sumber dalam pelatihan ini adalah seorang ibu muda bernama Irma Suryati (37) seorang pengusaha sukses “Mutiara Handycraft”. Dalam memberikan motivasi kepada peserta Irma lebih menekankan bahwa modal usaha bukan hanya terbatas pada uang. Modal utama dalam berusaha adalah cita-cita atau mimpi. Cita-cita sangat penting sebab cita-cita akan mengarahkan kemana masa depan kita nanti. Sebagaimana Philip E Humbert mengatakan “Cita- cita adalah soal sederhana, sebagian penduduk bumi ini paling males memastikan cita-citanya, kita tidak akan tahu perjalanan sampai dimana jika kita sendiri tidak tahu kemana kita akan pergi”.