http://melung.desa.id

Primbon dari kayu

Melung 5 Juli 2013,  Sudah sejak jaman dahulu para leluhur kita percaya bahwa hari kelahiran seseorang akan mempengaruhi watak, karakter dan peruntungan nasib jalan hidupnya.  Begitu juga dengan hal lain, seperti perjodohan, mencari rejeki atau akan memulai suatu usaha hari kelahiran akan berpengaruh terhadap orang yang bersangkutan.  Setidaknya hal ini berlaku bagi orang yang percaya.

Bagaimana orang dahulu dapat membaca ramalan atau primbon, semua dilakukan melalui pengalaman dan titen terhadap sesuatu yang terjadi. Baik itu dialami secara langsung ataupun melihat kejadian yang ada di sekelilingnya.  Dan setidaknya dijaman sekarang kita masih bisa melihat rekam jejak bagaimana orang jaman dahulu bisa mengetahui apa yang akan terjadi hanya dengan primbon yang di buat sendiri berdasarkan pengalaman hidupnya.

Yaswito (60) mungkin satu-satunya orang di Desa Melung yang masih menyimpan primbon dari kayu peninggalan Kakek moyangnya.  Benda berbentuk spersegi empat yang terbuat dari kayu dengan ukuran 20 X 15 cm merupakan warisan dari ayahnya (Nawikarta).   Benda yang biasa disebut primbon itu biasanya digunakan oleh Nawikarta untuk mencarikan hari baik bagi pasangan muda-mudi yang akan menikah, mendirikan rumah atau menempati rumah.   Benda yang diperkirakan sudah berumur ratusan tahun ini merupakan warisan yang diterima dari ayahnya (Nawikarta) yang mendapatkan benda tersebut dari ayahnya (Sawirana).

http://melung.desa.id

Yaswito sedang menunjukan cara kerja primbon kayunya

Para leluhur kita yang berdasarkan pengalaman dan ilmu titennya mewariskan suatu perhitungan dengan harapan dimasa mendatang akan membawa nasib baik atau jalan yang lebih baik bagi orang yang bersangkutan.