Tidak ada yang tau persis, tahun berapa pohon randu itu ditanam. Bahkan Suwarjo (80) penduduk setempat tak tahu kapan pohon itu ditanam dan siapa yang menanam.

Pohon randu yang berada di tepi jalan antara Melung-Kutaliman ini memang sudah ada sejak dahulu.
Bahkan konon menurut Sulastri (48) yang meupakan Kasi Pemerintahan Desa Melung, mengatakan “Sewaktu dari jaman saya SD dahulu (tahun 80 an) pohon randu itu sudah ada. Seingat saya pohon itu besar maupun tingginya hampir-hampir tidak berubah, sepertinya ajeg kaya itu”


Penduduk setempat menamakan pohon randu alas. Bisa dikatakan sebagai pohon bersejarah yang menyaksikan perkembangan Desa Melung dari tahun ke tahun. Pohon randu ini juga kerap menjadi momok bagi penduduk setempat,karena terkenal angker dan kata orang ada penunggunya.


Pohon randu ini juga kerap dijadikan patokan perhitungan mangsa, mangsa atau masa dimana para petani memulai untuk mengolah sawah. Salah satunya jika pohon randu buahnya mulai pentil (karuk), itu menandakan mangsa karo. Masa yang diyakini petani pada masa lalu itu baik untuk menanam jagung atau palawija yang lain. Petani pada masa itu menyebutnya duduh.


Pada mangsa ketiga ditandai dengan banyaknya burung-burung kecil yang mulai membuat sangkar, untuk tempat menetaskan telur. Perhitungannya kelak pada saatnya telur-telur burung ini menetas sudah tersedia banyak makanan untuk anak burung. Karena akan bertemu dengan mangsa sepuluh, masa dimana petani melakukan pemanenan.


Pada masa selanjutnya ketika buah pohon randu sudah mulai rentak (dikarenakan tua) itu merupakan pertanda sudah memasuki mangsa kapat (ditandai dengan buah kapuk randu njepat). Nanti kalau buah randu (kapuk randu) sudah mulai beterbangan dibawa angin, menandakan sudah memasuki mangsa kelima. Pada masa kalima, kanem adalah masa dimana petani melakukan tanam padi disawah.


Dengan harapan nanti akan menjumpai masa panen di mangsa kesepuluh. Panen ranteban, yaitu panen pada mangsa kesepuluh. Dengan perhitungan bahwa pada mangsa sewelas adalah puncaknya hama tanaman. Sehingga petani menghindari atau mengincar pada mangsa kesepuluh tanaman sudah dipanen. Panen pada mangsa kesepuluh juga berkeyakinan pada mangsa kesepuluh jika untuk panen itu hasilnya akan melimpah (kurang cangkang akeh isi).
Menurut Sukarto bahwa masa panen itu terbagi menjadi tiga periode. Jika panen pada mangsa rolas dan mangsa siji dinamakan panen sadon. Kemudian jika panen pada mangsa pitu disebut panen ulon-ulon.


Nah pada mangsa sewelas dan mangsa rolas ini ditandai dengan rumput tembagan sudah mulai berbunga. Ini sebagai tempat bagi lembing dan walasangit berpindah mencari makan, setelah petani memanen di mangsa sepuluh.


Tapi itu dahulu sebelum banyak perubahan atas perhitungan mangsa, dan pohon randu alas masih berdiri tegar dipinggir jalan menyaksikan perubahan jaman.

 

 822 total views,  2 views today

Bagikan Berita