Lumpur panas yang menyembur di Porong, Sidoarjo, memakan korban.  Kala itu korbannya bukan saja hewan, tetapi manusia juga.  Duka yang mendalam untuk keluarga korban.  Kelalaian pelaksanaan proyek menjadi alasan bencana tersebut, sampai sekarang belum ada usaha yang berhasil menghentikan semburan lumpur yang menyisakan derita warga Sidoarjo khususnya.

Mengingat bencana yang terjadi di Sidoarjo maka kita juga patut waspada dengan dampak dari adanya pembangunan PLTP Baturraden.  Seperti pitutur yang dituturkan secara turun-temurun : ” Mbesuk yen Gunung Slamet dikenditi, ana gili mujur ngetan, urung nganti tekan rampung, kidul gili nggo nggon perang lor gili nggo penisihan, bebarengan karo dungkaring wringin kurung jipang, gedene wringin kurung jleg bareng sedina.”

Sebuah pitutur yang sarat makna, jika diartikan dalam bahasa Indonesia kira-kira artinya ” Nanti kalau Gunung Slamet sudah dilingkari (dikenditi) jalan, adanya jalan membentang kearah timur, belum juga sampai selesai, disebelah selatan jalan untuk tempat perang, sementara disebeleh utara jalan untuk tempat pengungsian”. Sayangnya belum semua pitutur bisa diartikan seperti “bebarengan karo dungkaring wringin kurung jipang, gedene wringin kurung jleg bareng sedina” masih kesulitan untuk mentafsirkannnya.  

Seperti halnya pitutur : “Mbesuk neng sisih wetan arep ana ula gedhe buntute madangi jagad”  Suatu saat nanti akan ada ular besar yang ekornya menerangi alam semesta.  Setelah berpuluh tahun kemudian orang baru paham bahwa pitutur yang dimaksud adalah adanya gorong-gorong (pipa) yang digunakan untuk mengalirkan air guna memutar turbin yang ada di PLTA Ketenger, yang tempatnya ada di perbatasan sebelah timur Desa Melung.

Walaupun hanya sebuah pitutur yang dituturkan secara turun-temurun, mulanya Sura Krama yang menuturkan kepada Krama (anaknya) yang keduanya sudah lama meninggal.  Pitutur selanjutnya diteruskan kepada Disem yang menuturkan kembali kepada Dirtam (65) merupakan sumber pitutur yang dituturkan jauh sebelum dituturkan kepada Sura Krama.

Walau hanya pitutur yang sulit untuk bisa dipercaya kebenarannya, tetapi sudah ada pitutur yang terbukti kebenarannya.  Seperti contoh pitutur “Ana kali tanpa kedung” yaitu adanya sungai tanpa kedungan, yang kalau dimaknai arti pitutur tersebut adalah paralon.  Kalau kemudian pitutur yang belum tentu kebenarannya tapi terbukti itu dikaitkan dengan pembangunan PLTP Baturraden, tidak heran kalau ada kekhawatiran di masyarakat.

Munculnya pitutur akan terjadinya perang disebelah selatan dan sebelah utara dijadikan tempat pengungsian, jalan yang mana? masih menjadi teka-teki yang sulit ditebak, perang antara siapa dengan siapa? menjadi pertanyaan berikutnya.  Semoga saja pitutur tersebut salah, sehingga tidak harus terjadi perang yang akan membawa kesengsaraan.  Dan ada juga pitutur yang mengatakan bahwa Gunung Slamet itu tidak akan meletus akan tetapi amblas.

Wallahu a`lam ………