desa melung

Pagelaran Wayang Dalam Ruwat Desa Melung

Melung 7 Desember 2012,  Ruwat desa merupakan suatu rangkaian kegiatan atau tradisi turun-temurun yang dilaksanakan setahun sekali pada bulan ruwah.  Sebuah kegiatan yang lebih menitikberatkan pada acara tasyakuran atas rahmat yang diberikan oleh Allah S.W.T, dan permohonan doa agar senantiasa desa dan masyarakatnya dijauhkan dari segala marabahaya.   Acara ruwat merupakan budaya dari masyarakat Jawa yang oleh karenanya seperti desa-desa pada umumnya Desa Melung juga telah melaksanakan ruwat bumi pada hari Kamis 6 Desember 2012 dengan melibatkan seluruh warga masyarakat Desa Melung. 

“Sudah menjadi kesepakatan masyarakat Desa Melung bahwa didalam melaksanakan upacara ruwat desa diadakan dalam tiga tahun sekali, akan tetapi dalam setiap tahunnya juga dilaksanakan oleh masing-masing dusun secara sederhana.  Karena memang untuk dapat menggelar rangkaian acara ruwat desa membutuhkan pendanaan yang cukup besar yang tentunya akan memberatkan masyarakat kalau dilakukan setiap tahunnya”.  Seperti dituturkan oleh Sudarso (47) yang merupakan ketua panitia ruwat desa untuk tahun ini.

“Lebih dari itu acara ruwat desa disamping perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta permohonan doa untuk keselamatan semuanya juga merupakan upaya untuk melestarikan budaya atau adat turun-temurun yang sudah berjalan dari generasi ke generasi.   Setidaknya kita mencoba untuk mengenalkan adat ruwat desa, karena sudah barang tentu dibalik rangkaian acara kegiatan ruwat desa mempunyai makna dan mengandung nilai-nilai luhur yang bisa kita ambil manfaatnya”  hal ini disampaikan oleh Agung Budi Satrio Kepala Desa Melung dalam sambutan ruwat desa.

Adapun rangkaian kegiatan ruwat desauntuk tahun ini adalah pagi hari dari jam 07.30 WIB sampai dengan jam 09.00 Wib  arak-arakan hasil bumi dari masing-masing

desa melung

Arak-arakan hasil bumi Desa Melung

gerumbul (Dusun).  Dalam arak-arakan ini setiap gerumbul membawa berbagai macam hasil bumi yang nantinya akan di doakan dalam ruwat desa.  Disamping hasil bumi juga ada berbagai kesenian seperti calung, hadroh dan juga kentongan turut serta dalam iringan arak-arakan untuk memeriahkan suasana.  Dan tidak kalah penting untuk masing-masing gerumbul juga membawa tumpeng yang nantinya akan dimakan bersama sebagai simbol kebersamaan masyarakat desa dengan terlebih dahulu didoakan.

Dari masing-masing gerumbul mengarak semua hasil bumi menuju kesatu lokasi yang terpusat di lapangan Desa Melung, setelah sampai di lokasi semua kesenian secara bergantian ditabuh atau dimainkan yang tentu saja menambah semaraknya acara ruwat desa.   Tepat pukul 10.00 yang merupakan acara inti yaitu permohonan doa dan selamatan yang dipimpin oleh Dulrohmat selaku Kayim di Desa Melung.  Setelah sebelumnya ketua panitia memberikan sambutan yang pada intinya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselenggaranya acara ruwat desa.

Pagelaran wayang kulit seperti menjadi sesuatu yang wajib ada disamping berbagai macam sesaji  dalam acara ruwat desa, pagelaran wayang diadakan dua kali yaitu pada siang hari yang untuk meruwat desa dan malamnya harinya plesiran ruwat desa dengan mengambil lakon “Semar Mbangun Khayangan”.    Sebuah rangkaian kegiatan yang mengkolaborasikan antara budaya dan juga teknologi yang dikemas dalam satu paket kegiatan yang akan berlangsung selam empat hari.

Pada ruwat desa untuk tahun ini kebetulan bersamaan dengan acara hari ulang tahun (harlah) gerakan desa membangun (GDM) sebuah gerakan yang bertujuan untuk mewujudkan kemandirian desa.  Dalam rencananya harlah ini akan berlangsung selama tiga hari.  Dalam sambutanya Kominfo yang diwakili oleh Bambang Asmoro menyampaikan “Meski baru berjalan satu tahun, gerakan desa membangun telah mengembangkan jejaring pertukaran pengetahuan dan pembelajaran antar desa, dan dalam perjalanannya juga berkolaborasi dengan berbagai stacholder, eksekutif, legislatif, perguruan tinggi, swasta, komunitas serta perseorangan yang konsen terhadap kemandirian desa.

Pada hari pertama sesuai dengan agenda acara setelah dibuka oleh ketua panitia penyelenggara harlah 1 tahun GDM Antok Suryaden, diteruskan dengan diskusi dengan tema “Perbaikan Tata Laksana Pelayanan Publik dari Level Pemerintah Desa” dengan pembicara Profesor Imam Prasojo dari Universitas Indonesia Jakarta.  Adapun peserta harlah 1 tahun gerakan desa membangun adalah desa-desa yang tergabung dalam gerakan desa membangun antara lain perwakilan dari gerakan desa membangun Kabupaten Tasikmalaya, Bandung, Sukabumi, Majalengka, Banyumas dan juga perwakilan desa dari Kabupaten Jogyakarta.