gubugOrang-orang menamakan tempat tersebut dengan sebutan “Pagubugan”. Mungkin dahulunya adalah sebuah tempat khusus untuk mendirikan gubug (dangau). Lokasinya berada persis ditengah-tengah sawah bengkok milik Pemerintah Desa Melung, dengan luas kurang lebih 210 M2.

Seperti yang dituturkan oleh Sukarto (70) Pagubugan memang sudah ada sejak dirinya masih kanak-kanak. Biasanya kalau musim kemarau dirinya bersama dengan rekan sebayanya suka memasang kitiran pada lokasi tersebut. Dahulu memang tempat tersebut merupakan lokasi yang diperuntukan untuk membuat gubug. Adapun fungsi gubug tersebut adalah untuk menampung padi hasil panen.

Dipelataran gubug difungsikan sebagai tempat untuk menjemur padi. Lokasinya memang cukup luas, akan tetapi karena lebih tinggi dari selokan air sehingga lokasi tersebut hanya dimanfaatkan untuk membuat gubug dan tempat menjemur padi.

Disebelah barat pagubugan terdapat gundukan bebatuan tempat dimana petani memasang sesaji baik saat akan tanam maupun pada saat memulai panen. Sesaji merupakan wujud syukur dengan harapan tanaman yang ditanam selamat dan panen padi yang melimpah.

Kebiasaan memasang sesaji adalah tradisi turun-temurun, yang saat ini sangat sedikit sekali yang menjalankannya. Padahal kalau menurut Sukarto salah satu petani yang hingga saat ini masih rutin melakukan pemasangan. Ini merupakan sebuah wujud interaksi antara petani dengan alam yang telah menyediakan serta mencukupi kebutuhan padi.

Dalam arti lain bahwa budaya yang diajarkannya bahwa tidak ada istilah meminta, yang ada kita harus memberi yang sekaligus menerima, bukan meminta. Jika kita tidak hormat kepada bumi serta tidak menjaga kelestarian alam, maka bumi juga akan memberi balasan dengan yang kita lakukan.

Sesaji atau biasa disebut dengan sajen adalah sarana penghubung, yang ditunjukan dalam rangka penghomatan dan permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Disamping juga penghormatan kepada bumi dan alam semesta raya.

Ubarampe atau kelengkapan sesaji pada saat akan mulai tanam dan ketika akan panen pada prinsipnya sama. Yang membedakan mungkin terletak pada cara penyampaian atau do’a yang dipanjatkan. Adapun kelengkapan sesaji antara lain daun pohon dadap yang kuning (terambet), jajan pasar, bubur merah dan bubur putih, kemenyan dan ketupat. Untuk sesaji pada saat akan memulai panen ditambah dengan tumpeng dengan lauk disesuaikan dengan kemampuan

Untuk daun pohon dadap diutamakan yang berwarna kuning dan yang rontok dengan sendirinya, tidak boleh memetik. Sementara untuk ketupat terdiri dari dua buah ketupat, yaitu ketupat lempet dan ketupat slamet. Masing-masing jenis ketupat harus 2 (dua) sehingga jumlah ketupat keseluruhan 4 (empat) buah baik ketupat lempet maupun ketupat slamet. Kemudian ubarampe perlengkapan di taruh dalam sebuah tenong. Hanya tumpeng yang dipisahkan tidak disatukan dengan kelengkapan sesaji lainnya.

Tumpeng ada yang mengartikan tumekaning penggayuh artinya persembahan tersebut sebagai rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Ada juga yang memaknai tumuju pengeran mungkin karena bentuknya yang seperti gunung (mengerucut keatas).

Setelah sesaji terpasang kemudian dipanjatkan do’a atau mantra, sembari membakar kemenyan. Disini akan kami menemukan do’a atau mantra dalam bahasa Banyumas sebagai berikut :

Mantra ketika akan melakukan tanam padi “Nini Semara Bumi Kaki Semara Bumi kula titip Kangmas Dewi Sri, mbesuk menawi diparingi slamet mbenjang kula gantos (tebus) kaliyan rupa gunug seanakan”.

Sedangkan Mantra atau do’a ketika akan panen “Nini Semara Bumi Kaki Semara Bumi Ingkang mbaureksa sabin menika, Kangmas Mbok Dewi Sri, Ingkang wonten sengandaping utawi sengisoripun galengan. Gandeng Kula anggen titip wiji gugut sewu sampun wancinipun sepuh, bade kulo pundut, Nini Semara Bumi, Kaki Semara Bumi kukuhana ingkang dados rejeki kula. Menawi wonten kekirangan kula nyuwun pangapunten”.

Kemenyan yang dibakar sebagai dimulainya prosesi upacara sesaji. Dalam menjalankan ritual ini harus diluruskan niat bahwa membakar kemenyan tidak ditunjukan kepada arwah (danyang) yang mbaurekso.