Kotak Pemilihan Umum

Melung (17/12),  Menjelang pemilihan bupati dan wakil bupati untuk Kabupaten Banyumas banyak warga masyarakat yang merasa bingung harus memilih siapa? terutama warga masyarakat Desa Melung.  Pemilihan kepala daerah atau biasa disebut dengan pilkada Banyumas akan dilaksanakan pada tanggal 17 Februari 2013, namun sejauh ini jangankan untuk bisa menentukan pilihan mengetahui nama-nama calon bupati dan wakilnya saja banyak yang tidak tahu.  Lalu siapa yang harus dipilih?

“Sampai sekarang saya belum tahu nama-nama calon bupati yang akan memimpin BANYUMAS, dan kalaupun saya tahu nama-namanya saya juga tidak tahu apakah orang tersebut benar-benar akan bisa dijadikan pemimpin yang baik” seperti dituturkan oleh Kusno (42) warga masyarakat Desa Melung.  Lebih jauh Kusno mengeluhkan bahwa sebenarnya dengan adanya pilkada atau sejenisnya yang sudah barang tentu yang oleh sebagian besar masyarakatnya juga tidak mengetahui orang-orang yang mencalonkan, apa tidak sebaiknya untuk menentukan calon pemimpin di mandatkan saja kepada DPRD (Dewan Perwakilan Masyarakat Daerah) selaku wakil rakyat,  kalau hal ini dapat berjalan saya pikir ini akan mengurangi biaya penyelenggaraan pilkada atau pil yang lain, malah yang ada pilkada akan membuat terjadinya permusuhan antar warga karena beda pilihan.

Dan sudah barang tentu sebagai wakil rakyat sudah tahu tentang karakter orang-orang yang mau mendaftarkan diri sebagai calon dalam pilkada sehingga tentu hasilnya akan sangat baik apalagi kalau dasarnya musyawarah mufakat.  Hal ini semestinya kita kembali kepada apa yang sudah tertuang didalam Pancasila  terutama sila ke 4 (empat) “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan dan perwakilan” , begitu Kusno menambahkan.

Di Desa Melung sendiri untuk daftar pemilih tetap telah ditetapkan oleh PPS (Panitia Pemungutan Suara) tingkat desa pada tanggal 13 Desember 2012, sebanyak 1.546 jiwa pilih.   “Dari sejumlah pemilih yang telah ditetapkan sebanyak 26 orang berada di luar negeri dan kemungkinannya tidak memilih dalam pilkada Banyumas karena nggak bakalan pulang dalam waktu dekat, belum ditambah dengan jumlah warga masyarakat yang bekerja di luar kota.  Tentunya ini akan menambah angka golput” seperti dituturkan oleh Timbul Yulianto (36) selaku PPL (Pengawas Pemilihan  Lapangan) Desa Melung.

Banyak poster-poster terpampang dengan gagahnya dan juga selebaran foto dengan tulisan mohon doa restu mau memimpin Banyumas, namun dari sekian ratus poster yang ada belum bisa menjadi panduan untuk bisa memilih pemimpin Banyumas.  Tentunya pemimpin yang bisa diharapkan untuk membangun Banyumas dan mensejahterakan masyarakatnya.  Banyak team sukses yang  menawarkan ini dan itu yang tujuannya untuk dapat merebut suara masyarakat agar memilih jagoannya dalam pilkada.

Keberadaan team sukses inilah yang hanya menginginkan jagonya menang sehingga kalau dalam istilah dagang menawarkan barang akan ini barang bagus dan stok terakhir, atau dengan itu barang sudah kadaluwarsa dan lain sebagainya.  Yang penting barang dagangannya laku tidak peduli nanti barang itu busuk atau yang lebih mengerikan lagi adalah barang kadaluwarsa dan mengandung racun.