Seiring temaram senja sampailah Yasreja dirumahnya yang berada di wilayah RT 02 RW 02 Desa Melung.  Setelah seharian berada dikebun pinggiran kali untuk membelah batu, yang setiap hari digelutinya sebagai  mata pencaharian demi menyambung hidup keluarganya. Dengan keringat yang masih bercucuran membasahi pakainnya serta rasa lelah yang tak pernah dirasakanya.

Yasreja (68)  adalah seorang pekerja keras, dan ulet serta tangguh dengan bukti tenaganya tak mengenal berat dan kerasnya menjalani hidup, seberat dan sekeras  batu yang setiap hari dihantam lewat tanganya dari setitik lobang dengan palu dan tatah dengan telatenya, sehingga bisa menghasilkan satu, dua belahan batu besar yang dipotong menjadi potongan-potongan kecil menjadi berbagai macam bentuk dan ukuran.

Ada beberapa bentuk batu yang tergantung pemakaian dan kegunaanya yang seperti dikatakan Yasreja ” Batu muka  dengan bentuk persegi antara 20 cm yang banyak dipesan dipergunakan untuk pondasi bangunan yang dengan kisaran satu buah Rp. 500 (lima ratus rupiah) per-buah  dilokasi, ada juga dibentuk dengan seukuran bata yang bisa digunakan untuk tembok rumah ukuran panjang 20 cm, tinggi 6 cm, lebar 10 cm dengan kisaran harga Rp. 800 (delapan ratus rupiah) per-buah, batu paving / umpak untuk pembuatan jalan dengan ukuran 2 x batu bata dengan kisaran harga RP.1600 (seribu enam ratus rupiah) per-buahnya “.  Harga masih dilokasi, apabila sampai dijalan Yasreja harus mempekerjakan seorang untuk sampai dilokasi pinggir jalan dengan upah Rp. 200 / buah.

Setiap harinya ia berangkat bekerja dari pukul 07.30 s/d 16.00 wib, apabila mulai dari proses awal hanya menghasilkan kurang lebih 50 buah batu muka / belah x @500 bisa dilihat hanya Rp.25.000,- /hari, bisa dikatakan penghasilan yang pas pasan bahkan dibilang kurang untuk biaya hidup sehari hari.  Bila hari kedua bisa dibilang lumayan karena tinggal membuat potongan potongan atau melanjutka pekerjaan hari kemarin yang bisa menghasilkan 100 buah / hari x@500 bisa sedikit lega dengan menghasilkan Rp.50.000,- itu saja bila cuaca mendukung tidak hujan tetapi itu tidak menjadi masalah baginya dan membuat lega hati.  Penghasilanya sangat tergantung dengan ada dan tidaknya dari pesanan.   Bila ada pesanan berarti dapur bisa tetep ngebul, bila sedang tidak ada pesanan bisa dibayangkan tidak ada pemasukan. Tetapi ia tetap bekerja dengan semangatnya.  Pesananya datang dari lingkungan Desa sendiri maupun datang dari luar desa

Kondisi sekarang ini untuk lokasi/ tempat sudah agak jauh dari rumahnya,  yang lokasi dekat dengan rumahnya sudah habis karena hampir setiap harinya batu batu itu diangkut ke luar kota maupun digunakan sendiri oleh warga desa Melung untuk Pondasi pembangunan Rumah. Di Melung sendiri masih banyak juga pekerja seperti Yasreja yang berprofesi sebagai Tukang Kencling Batu yang kurang lebihnya ada 26 orang lainya yang tersebar di Desa Melung.

Itulah sedikit dari kekayaan alam yang terbatas , memang digunakan oleh manusia dan mudah mudahan digunakan dengan tepat guna dengan melihat lingkungan disekitarnya dan harus tetap menjaga kelestariannya.