Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. ==> Pramudya

Pagi ini saya membereskan arsip-arsip desa, merapihkan dan mencoba mengurutkan arsip-arsip desa berdasarkan tahun. Tumpukan kertas yang terbungkus dalam stopmap berjejer dalam ruang arsip desa. Tanpa sengaja saya melihat sebuah buku yang pada pojokannya sudah robek-robek. Buku dengan judul “Register Keputusan Desa” buku yang mencatat proses kegiatan pada tahun 1972.
Buku tersebut merupakan buku catatan tentang proses musyawarah, seperti notulensi rapat. Yang menarik dari buku tersebut adalah tulisan, rangkaian kata serta ejaanya. Tulisan terlihat rapi yang semuanya miring kesebelah kanan dengantulisan (saya menyebutnya) latin. Masih menggunakan ejaan lama seperti ketika menulis kata dulu disitu tertulis doeloe.
Salah satu catatan yang sempat saya baca adalah tentang proses musyawarah dalam pembuatan jembatan Kali Manggis yang dibangun pada tahun 1972. Dimana dalam catatan masyarakat memandang perlu untuk segera membuat jembatan penghubung antar dua grumbul. Jembatan yang dibangun dengan biaya kurang lebih 458.178 (empat ratus lima puluh delapan ribu seratus tujuh puluh delapan rupiah.
Menulis adalah suatu proses perekaman sejarah, begitulah kiranya yang sampai hari ini saya asumsikan. Bagaimana tidak merekam sejarah? Ketika kita menulis maka secara tidak langsung terjadilah proses perekaman dari apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan, dan apa yang kita dengar, semua terekam dalam bentuk catatan. Itulah sebabnya saya katakan menulis adalah merekam sejarah.
Lantas kemudian pertanyaan yang menghantui batok kepala kita, jika kita sampai hari ini tidak menulis, siapa yang akan merekam sejarah kita?