Makam Kyai Melung yang juga terkenal dengan nama Syeh Abdurrahman, adalah sebuah makam tua yang di keramatkan. Makam Kyai Melung berada di pemakaman umum yang terletak di grumbul Melung yang kebetulan berada di tepi jalan raya Desa Melung. Berbeda dengan makam-makam lainnya yang penuh ditumbuhi rumput, makam Kyai Melung nampak berih dan terawat. Kendati makam tersebut tidak dibangun secara permanen hanya bebatuan sebagia penanda adanya makam, yang di sekelilingnya ditumbuhi lumut dengan dua buah batu nampak menyembul sebagai kijingnya.

Berada persis ditengah makam umum dengan serumpun bambu menaungi tempat tersebut. Rumpun bambu yang sangat lebat, karena tidak semua orang berani menebang pohon bambu di sekitar makam tersebut. Kalaupun terpaksa harus ditebang, paling dipergunakan untuk kepentingan umum seperti mengganti getek pagar makam. Dan itupun hanya orang-orang tertentu yang berani melakukan, seperti tetua desa, pengurus makam, dengan terlebih dahulu meminta ijin.

Menurut cerita masyarakat bahwa rumpun bambu tersebut sudah ada sejak dahulu. Dan dirumpun bambu tersebut merupakan tempat jago Liring Galing kepunyaan Raden Kamandaka biasa bertengger. Ayam jago yang suaranya menggema dan terdengar sampai jauh atau “melung-melung” dan yang dikelak kemudian hari grumbul tersebut dinamakan M E L U N G.

Sayangnya keberadaan makam tersebut juga masih merupakan misteri, apakah Kyai Melung merupakan cikal bakal masyarakat grumbul Melung. Hal ini karena sebagian masyarakat termasuk yang sudah sepuh sekalipun tidak tahu persis mengenai asal muasal makam tersebut. Kebanyakan masyarakat hanya mengetahui bahwa makam tersebut merupakan makam seorang penderes yang tinggal disitu. Kemudian atas suatu peristiwa kemudian diterkam harimau, hingga yang tersisa hanya potongan tangannya saja. Dan menurut cerita masyarakat bahwa semasa hidupnya Kyai Melung merupakan tokoh yang sangat disenggani dan dihormati. Mempunyai hewan peliharaan burung perkutut yang suaranya sangat merdu.