Badannya tak lagi lurus (bungkuk) dan jalannya pun sudah sangat lambat sebenarnya, walau tanpa beban di pundaknya sekalipun. Apalagi dengan beban membawa beban, tetapi Supardi seorang kakek berumur (84)  bisa tersenyum dan masih bisa mendengar dengan jelas. “Lah nggo aling-aling kuping” (Hanya sekedar untuk menutup telinga) begitu jawaban sambil tersenyum, ketika ditanya untuk apa membawa beban segala.

Diusianya yang senja Supardi tak mau hanya diam di rumah, pergi ke kebun masih menjadi rutinitasnya setiap hari. Terkadang anak dan istrinya sudah melarang sebenarnya tetapi Supardi kerap mengabaikan larangan untuk pergi kekebun. “Awake pada lara malah angger neng ngumah utawa angger nganggur koh” (badan terasa sakit malah kalau dirumah dan nggak kerja).

Hampir setiap hari sehabis dari kebun pasti ada saja yang dibawanya pulang, entah kayu bakar ataupun hasil kebun lainnya. Seakan tidak memikirkan kondisi tubuhnya yang semakin menua. “Balung tua tah biasane wangkot, anu wis biasa kawit bocah ya anu ora kaget” (sudah terbiasa dari kecil sehingga tidak kaget) lagi-lagi lelaki tua itu menyanggah setiap pertanyaan yang kerap dipertanyakan kepada dirinya.