Penulis : Nirmala Fauzia, Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM Yogyakarta

Ketika bicara soal hubungan antara desa dan internet, mungkin kau akan berpendapat bahwa keduanya akan sulit bersatu. Listrik saja belum tentu lancar menyala, apalagi penggunaan komputer dan teknologi lainnya. Jika itu yang ada di pikiranmu sekarang, maka kau harus segera berkenalan dengan Desa Melung, desa melek IT. Desa ini berada di kaki gunung Slamet, Jawa Tengah. Kebetulan hari Rabu (20/11) malam yang lalu, rombongan Jogja yang terdiri dari lima mahasiswa dan satu dosen dari Fisipol UGM berkunjung ke Desa Melung dalam rangka observasi lapangan. Observasi ini dilakukan sebagai tindak lanjut penelitian tentang praktik jurnalisme warga di enam portal desa Banyumas yang tergabung dalam Gerakan Desa Membangun.

Malam itu, kami diarahkan menuju kantor Desa Melung. Di sana kami bertemu dengan Kepala Desa Pak Khaerudin atau biasa disapa Pak Heru serta Pak Budi Satrio. Satu hal yang menarik hati adalah keberadaan komputer di kantor desa ini. Bukan fisiknya, tapi isi yang ada di dalam komputerlah yang menarik. Desa ini sudah menerapkan Mitra Desa, sebuah aplikasi dengan rangkuman data statistik penduduk desa. Ketika ada masyarakat yang ingin membuat surat untuk keperluan tertentu, cukup klik beberapa tombol dan isian maka surat pun sudah tercetak. Efisien! Sayang sekali kami tak sempat menyaksikan secara langsung bagaimana praktiknya, tapi setidaknya tulisan-tulisan di portal desa Melung sudah menjelaskan fasilitas ini.

Ya, Desa Melung memiliki portal berita desa yang selalu diperbaharui dengan kabar-kabar seputar Desa Melung. Entah itu potensi baru yang ada, peristiwa-peristiwa, maupun masalah yang terjadi di Melung pun selalu diunggah di portal desa. Bersama beberapa perangkat desa lainnya, Pak Heru dan Pak Budi termasuk menjadi kontributor penulis di portal ini. Tak heran jika portal desa Melung menjadi portal yang paling aktif mengunggah berita; penulisnya banyak dan produktif.

Kecanggihan Melung tidak hanya sampai di situ. Satu hal yang paling membuat saya kagum dengan desa ini yakni keberadaan hotspot wi-fi yang bisa diakses di seluruh area Melung. Bayangkan, satu desa Melung ini sudah terkaver dengan sinyal untuk internet. Tidak main-main, kecepatan aksesnya tak kalah dengan sinyal di kota!

Hal ini benar-benar menjadi pembuktian bahwa desa tak selalu harus ndeso. Anggapan semacam ini harus mulai disingkirkan dari pikiran masing-masing. Coba bayangkan jika tiap desa dan kelurahan yang ada di Indonesia ini bisa menerapkan aplikasi Mitra Desa, maka kasus DPU bermasalah tak akan muncul. Coba bayangkan jika semua desa dan kelurahan mampu mengelola portal berita desa sendiri, niscaya desa akan lebih berdaulat dan mampu mengenali identitas dirinya. Coba bayangkan jika desa dan kelurahan di Indonesia memiliki akses internet secepat ini, arus informasi dari pusat ke akar menjadi lebih lancar.

Sayang sekali kunjungan super singkat di Melung ini harus berakhir. Jika ada kesempatan lagi, tentu saya dengan senang hati akan berkunjung lagi ke Melung. Siapa tahu kejutan-kejutan apa lagi yang akan dihadirkan Melung di hadapan mata saya. Searah dengan laju mobil yang meninggalkan Melung, terucap dalam hati, ah kotaku ternyata tak secanggih desaku.

[Nirmala Fauzia, Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Gadjah Mada Yogyakarta]