Bicara tentang keterbukaan sesungguhnya bagi orang desa bukan barang baru atau sesuatu hal yang baru terutama dikalangan masyarakat desa.  Keterbukaan informasi, warga desa sudah terbiasa melakukan itu sejak adanya desa terbentuk.  Melalui pertemuan-pertemuan rutin baik tingkat RT, RW sampai dengan Desa menunjukan adanya keterbukaan informasi.  Karena dalam pertemuan atau musyawarah dimanfaatkan oleh para ketua atau pemimpin di komunitas baik dari RT, RW atau tingkat desa untuk menceritakan perkembangan serta laporan-laporan kegiatan sampai dengan tentang perkembangan keuangan atau kas kelompok.

Dalam musyawarah disamping melaporkan perkembangan keuangan kas kelompok juga dimanfaatkan untuk mengevaluasi hasil kerja pada bulan sebelumnya dan juga merencanakan kegiatan pada bulan berikutnya.  Seperti pada umumnya kegiatan RT masih terbatas pada lingkungan RT semisal gotong royong memperbaiki saluran air, membersihkan sekitar lingkungan RT dan lain sebagainya. Dalam menentukan apa yang akan dilaksanakanpun didasarkan atas musyawarah dan mufakat.  Pada proses ini biasanya terjadi pro dan kontra,  disinilah tugas dan peran ketua RT atau tokoh masyarakat setempatlah untuk mengatasi pro dan kontra agar masyarakat bisa menerima apapun hasil keputusan rapat atau pertemuan rutin.

Keterbukaan atas informasi memang sudah menjadi sebuah tradisi bukan hanya ditingkatan RT ataupun RW, bahkan sampai ditingkat desapun sudah ada.  Melalui pertemuan yang disebut dengan selapanan desa mengadakan pertemuan rutin.  Seperti di Desa Melung pertemuan rutin tersebut diadakan setiap malam senin wage.  Dalam pertemuan rutin tersebut disamping dihadiri oleh perangkat desa juga dihadiri oleh para ketua RT dan RW yang ada diwilayah Desa Melung, tokoh masyarakat serta tidak ketinggalan ketua dan pengurus lembaga yang ada di desa.

Dalam setiap pertemuan juga bisa dimanfaatkan untuk menentukan pemimpin mereka,  pada tingkat RT misalnya warga akan bermusyawarah dan bermufakat menentukan calon pemimpin yang dipandang mampu.  Arti mampu disini umumnya orang yang  mereka anggap memiliki ilmu yang lebih dari rata-rata warga tanpa memandang apakah mereka itu memiliki harta yang banyak atau tidak, warga lebih mengutamakan pemimpin yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih yang layak untuk dijadikan pemimpinnya.

Begitu keterbukaan atas informasi yang ada ditingkat RT, RW dan desa yang terbangun sudah sejak lama ini jangan sampai kemudian hilang.  Tinggal bagaimana menjaga dan melestarikan suatu budaya atau kebiasaan yang baik ini agar tetap lestari. Apalagi para perangkat desa bisa diibaratkan bagaikan ikan didalam akuarium, mereka dapat dipandang dari berbagai sudut pandang. Sehingga apapun yang dilakukan akan ketahuan oleh warga masyarakat.