Senja hari yang temaram, matahari berjalan menuju peraduan malam, diwaktu yang bagi sebagian orang digunakan untuk istirahat, namun lain sebut saja dengan NADIM (40 thn).  Ia masih harus naik turun pohon kelapa dari satu pohon satu ke pohon kelapa lainya, demi untuk menghidupi keluarganya agar kehidupan bisa berlangsung. Itulah perjuangan hidup yang dirasa berat oleh keluarga Nadim, yang dimana mereka menerima takdir  diantara Insan ciptaan Tuhan yang lainya. Nadim mempunyai seorang istri dan dua orang anak laki- laki, istrinya sendiri terlahir dengan riwayat agak keterbelakangan mental dengan terkadang juga menderita penyakit ayan atau epilepsi dan sering kumat dimanapun tempat.  Dengan menempati rumah yang sangat sederhana dan sedikit agak jauh dari lingkungan tetangga, mereka membangun mahligai rumah tangga dengan penuh perjuangan dan keunikannya serta kelebihannya apabila dipandang oleh banyak orang.

Itulah disalah satunya keadilan Tuhan dengan menciptakan Mahluk Nya dengan berpasang-pasangan. Anak pertamanya bernama sebut saja PUTRA (10 thn), yang kelihatanya juga seperti ayah dan ibunya,  yang menurut pandangan sebagian orang mengalami keterbelakangan. Putra  sekarang tidak bersekolah lagi, dulu ia masuk di PAUD (Kelompok Bermain) dan masuk di bangku Sekolah Dasar,  hanya sampai kelas 1, itu saja dilakoninya kurang lebih 3 tahun, Putra selalu tertinggal jauh dari teman temanya dan tidak dapat menangkap pelajaran dan akhirnya Darno Drop Out / keluar dari Sekolah Dasar di kelas 1 karena dirumah kedua orang tuanya pun tidak dapat membimbing belajar anaknya, akhirnya mungkin merasa bosan dia keluar dan tidak melanjutkan sekolahnya. Dan sangat disayangkan, di Desa Melung sendiri masih ada sampai 6 atau 7 anak-anak yang menderita keterbelakangan mental seperti Putra yang rata-rata sama hanya mengenyam pendidikan dasar di kelas satu.  Secara fisik tampak normal dan ceria seperti teman-teman sebaya, namun daya tangkap dalam pelajaran memang sangat memprihatikan.  Keluarga Nadim pernah mendapat uluran bantuan dari orang yang peduli, dengan memberikan peralatan sekolah dan santunan untuk kehidupannya selama beberapa kali.

Seandanya saja ada sekolah khusus bagi anak anak yang seperti Putra dan lainya yang dekat mungkin akan dapat membantu keterbelakangan mental mereka. Ataupun bagi para pembaca sekiranya dapat memberi solusi bagi anak anak yang seperti Darno.Dengan dilahirkan di kondisi keluarga seperti itu, mudah mudahan keluarga Nadim tetap mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan, dari keluarga miskin, keterbelakangan mental,semoga mereka tetap merasakan kesejahteraan menurut perasaan mereka.

Ditulis oleh : Sulastri