Dalam sebuah seminar biasanya menghadirkan pembicara atau tokoh hebat. Namun berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Politik jurusan komunikasi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta yang malah mengundang orang desa sebagai pembicara. Seminar yang diadakan pada Kamis (14/11) mengangkat tema “Desa 2.0 Ketika Desa mengenal New Media”.

Orang desa yang biasa berhadapan dengan lumpur sawah dan terjalnya jalan perbukitan untuk mendapatkan sepikul rumput, (seperti saya) harus berhadapan dengan mahasiswa. Apalagi mahasiswa Strata 1 dan Strata 2, malam yang seharusnya bisa dipergunakan untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan Purwokerto – Yogyakarta harus terganggu dengan memikirkan bagaimana menghadapi hari esok.

Sampai-sampai sebelum memasuki ruang seminar kita harus berdiskusi lagi untuk lebih meyakinkan sebagai orang hebat dalam sebuah seminar, (sembari udud). Tapi ya tidak seperti pesakitan yang memasuki ruang sidang walau sedikit berdebar juga. Kami nampak gagah karena kami pakai sepatu dengan setelan baju yang sebenarnya sudah disetrika tapi keburu kucel dalam tas gendong.

Achmad Munawar (Mantan) Kepala Desa Pancasan sebagi pembicara pertama (urut umur, he he) memberikan gambaran tentang apa itu “gerakan desa membangun”. Sebuah gerakan desa-desa yang menginginkan adanya perubahan, selama ini desa hanya dijadikan objek pembangunan dan terkesan bahwa desa tidak bisa membangun. Gerakan desa membangun bukanlah sebuah program, ini murni gerakan kolektif desa untuk bisa mengangkat harkat dan martabat desa menuju sebuah desa yang berdaulat.

Tibalah giliran saya untuk menunjukan bagaimana desa dalam mengelola keterbukaan informasi publik melalui website desa. Sesuai yang diamanatkan dalam undang-undang keterbukaan informasi publik. Website desa juga bisa menjadi alat untuk memperkenalkan potensi-potensi yang ada di desa, dengan harapan adanya potensi tersebut bisa dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan. Menyuarakan dan mengabarkan isu yang sedang terjadi di desa sehingga harapannya ketika nanti pemerintah akan mengambil kebijakan tidak lagi berdasarkan asumsi. Dengan adanya website desa diharapkan akan bisa melawan konten-konten yang berbau porno.

Kodirin (Pak Dukuh) Lisa Linda selaku ketua panitia menyebutnya, sebagai pembicara ketiga menjelaskan bagaimana kemudian gerakan desa membangun dengan alat (website desa) mampu mengubah kebijakan-kebijakan pemerintah tanpa harus melalui demo. Pelayanan secara cepat tepat dan akuntabel juga dipamerkan melalui mitra desa. Sebuah aplikasi yang memuat database berbasis kependudukan.

Terakhir Pradna Paramitha sebagai pimpinan rombongan dari Banyumas, merangkum kesemuanya yang telah di paparkan sebelumnya. Dan juga menceritakan peranserta Blogger Banyumas dalam mendampingi desa yang tergabung dalam gerakan desa membangun di Banyumas. Selain itu juga memberikan materi tentang penggunaan “open source” operating system bersumber terbuka. Dinamika mendampingi desa juga menjadi cerita menarik untuk disimak apalagi banyak “nganu-nya”. “Intinya jika ingin turun kedesa mendampingi desa-desa, harus siap untuk menurunkan tempo atau irama menyesuaikan irama orang ndesa”.

Yang tidak disangka adalah ketika tulisan-tulisan dari website desa menjadi sangat berarti untuk kalangan akademisi, setidaknya ini bisa untuk menjadi bahan penelitian. Dan saya terutama setelah disodori hasil analisa tentang penulisan jadi tahu bahwa ternyata ada penurunan jumlah produksi penulisan dari tahun ke tahun. Yang tentu saja ini bisa untuk catatan dan menjadi bahan evaluasi untuk lebih produktif lagi dalam penulisan.