Mendengarkan kisah tentang kekuatan olah kebathinan tentu sesuatu yang sangat mengesankan. Seperti malam ini (Selasa 24/11) saya bertamu ke orang yang dianggap paling sepuh di Grumbul Melung. Sebut saja namanya Mbah Martawijaya seorang kakek yang menurut pengakuannya sudah berumur sekitar 89 tahun. Walaupun secara umur sudah tua namun panca indranya masih berfungsi semua tidak ada yang kurang. Hal itu membuat komunikasi antara saya dengan beliau jadi lancar.

Mulanya Mbah Marta menceritakan peristiwa atau kejadian masuknya DI/TII, sebuah cerita yang hampir semua orang bisa menceritakannya. Terutama pada bagian bagaimana perilaku anggota DI/TII yang sangat menyeramkan dan menakutkan bagi sebagian masyarakat seperti Desa Melung Kecamatan Kedungbanteng. Tapi bukan bagian itu sebenarnya yang menarik perhatian saya.

Saya lebih tertarik mendengar adanya sebuah aturan yang tidak tertulis akan tetapi hampir semua orang melaksankan dan menaati aturan tersebut. Padahal kalau mendengar cerita Mbah Marta bahwa dalam aturan tersebut juga tidak dijelaskan sanksi-sanksi atas pelanggaran aturan tersebut. Adapun sanksi atau ancaman dalam aturan tersebut hanya berupa kata-kata “Ora ilok”. Menurut Mbah Marta asal sudah mendengar kata “Ora Ilok” tentu semua paham bahwa memang hal itu tidak boleh dilakukan.

Seperti misalnya pada saat akan mematikan Sentir (lampu penerangan pada malam hari) tidak diperbolehkan dengan cara meniupnya, cukup dipegang dengan dua jari. Spontan saya bertanya apa tidak panas Mbah? Tapi justru bukan senang dengan pertanyaan saya Mbah Marta malah jadi terlihat agak enggan untuk bercerita. Mbah Marta malah sibuk dengan lintingannya (rokok buatan sendiri dengan cara di linthing). Padahal rokok yang tadi dibuatnya juga belum habis masih mengepul di asbak yang terbuat dari potongan bambu.

Dengan rasa bersalah akhirnya saya minta maaf atas pemotongan cerita oleh Mbah Marta, akhirnya Mbah Marta kembali mau bercerita. Pada dasarnya semua mahluk ciptaan Gusti Allah itu semuanya memiliki jiwa, yang tentu saja harus diperlakukan sebagaimana orang yang memiliki jiwa. Sedangkan tiupan angin saat kita meniup “Sentir merupakan simbol dari kehidupan manusia. Artinya bahwa janganlah kita menyia-nyiakan kehidupan kita hanya untuk mematikan sesuatu yang telah memberikan kita penerangan pada saat gelap.

Makanya kita pun sebenarnya tidak diperbolehkan untuk ngempos (mengeluarkan udara dari dalam mulut dengan agak berat). Terutama pada saat kita sedang menghadapi sebuah cobaan hidup, seberat apapun kita jangan mengeluh karena mengeluh hanya akan menambah beban semakin berat.

Pada umumnya orang-orang dahulu itu ketika mengucapkan kata-kata yang sebenarnya kalau dipikir pada waktu itu sangatlah mustahil, tapi suatu ketika ucapan tersebut terbukti kebenarannya. Menurut Mbah Marta bahwa apa yang diucapkan itu bukan asal bicara, biasanya mereka sebelumnya memang sudah diberi semacam petunjuk. Akan tetapi tidak semua orang diberi petunjuk, hanya orang-orang tertentu saja yang dapat membaca tand-tanda alam.

Tanda-tanda alam hanya bisa dipelajari dengan laku prihatin dengan cara mendekatkan diri ke Yang Maha Kuasa. Laku prihatin bisa dilakukan dengan cara ngasrep, berpuasa dan pada prinsipnya bahwa sesuatu bisa masuk itu apabila wadah yang kita miliki itu ada ruang kosong. Jauh dari sifat serakah, iri, dengki dan tamak itu juga merupakan syarat yang tidak terpisahkan.

Kedekatan dengan alam bukan saja berarti harus berada di suatu daerah pinggiran dekat dengan hutan, tetapi bagaimana kita menghormati alam, menjaga dan merawatnya. Makanya tidaklah heran jika akan melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan alam ada istilah “nembung” atau permisi. Itu merupakan bagian dari menghargai alam disamping memasang sesaji sebagai bentuk penghormatan kepada alam. Sayangnya hal itu sering dimaknai sebagi sesuatu yang musrik. Padahal kalau kita mau jujur, bahwa musrik dan tidaknya itu tergantung kepada niat hati kita. Karena sesebenarnya kita juga percaya bahwa adanya Gusti Allah, dan hanya kepadaNya kita memohon petunjuk dan pertolongan.