melung.or.id

Emas Hijau

Melung 3/2/2013,  Pada waktu itu antara tahun 1980 an, masa dimana masyarakat Desa Melung dan sekitarnya merasakan kehidupan yang boleh dikatakan makmur.  Kemakmuran itu karena pada waktu itu sedang musim cengkeh, dimana  Desa Melung dapat merupakan salah satu  pusatnya kebun cengkeh.  Karena memang mayoritas tanaman yang ada di hutan milik masyarakat adalah cengkeh, dan rata-rata masyarakat mempunyai pohon cengkeh.

“Harga cengkeh kering pada waktu itu mencapai Rp. 7.000,- (tujuh ribu rupiah) per kilogramnya, waktu itu merupakan masa puncak atau jaya-jayanya cengkeh.  Karena kalau dibandingkan dengan harga beras yang waktu itu (1980 an) hanya Rp. 80,- (delapan puluh rupiah) dan harga emas Rp. 3.000,- (tiga ribu rupiah)” di ceritakan oleh Rokhidin (59) salah satu warga masyarakat Desa Melung.

Masih menurut cerita Rokhidin bahwa dahulu hampir semua tanah yang ada di Desa Melung dapat dipastikan ada pohon cengkehnya, dan rata-rata umurnya sudah lebih dari 15 tahun, karena waktu itu semua pohon sudah besar-besar dan sudah berbuah.  Bahkan di samping kiri, depan-belakang rumah itu semua pasti ada pohon cengkehnya.  Dan kalau jaman dulu itu yang namanya mau cari uang itu gampang, kita tinggal mungut buah cengkeh yang jatuh saja sudah pasti lebih dari cukup untuk sekedar biaya hidup.  Bayangkan saja harga cengkeh yang masih basah pada waktu itu bisa mencapai Rp. 2000,- (dua ribu rupiah) padahal harga beras cuma Rp. 80,- (delapan puluh rupiah).

Namun kini tak satupun sisa jaman kejayaan cengkah, hilangnya ratusan bahkan ribuan pohon cengkeh yang ada di Desa Melung  lebih dikarenakan adanya permainan harga.  Turunnya harga cengkeh sampai Rp. 2.250,- membuat masyarakat kecewa, karena harga yang sudah turun jauh juga karena adanya larangan untuk menjual ke pabrik secara langsung.

Desas-desus yang saya dengar katanya harga di pabrik itu masih Rp. 7.000,- akan tetapi kita (masyarakat) dilarang untuk menjual langsung, kalau nekad jual ke pabrik pasti akan di tangkap.  Hal inilah rupanya yang membuat masyarakat marah adan kecewa yang pada akhirnya membabat semua pohon cengkeh yang ada.  Karena di rasa tidak mencukupi untuk biaya upah pemetikan, dan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang selama ini mengandalkan dari buah cengkeh, terpaksa mereka menjual pohon cengkehnya.