MEMASUKI bulan sura ini, kepercayaan sebagian masyarakat Jawa tak lekang dengan prosesi ruwatan bumi. Hampir setiap desa atau kelompok masyarakat tertentu menggelar ritual tahunan dengan berbagai ragam acara.

Mereka menumpahkan syukur dengan tradisi kedaerahan masing-masing. Itu semua dilakukan sebagai wujud syukur kepada Sang Pencipta atas nikmat karunia dalam penghidupan di bumi setahun terakhir ini.

Upaya pelestarian tradisi itu, salah satunya dilakukan oleh masyarakat desa pinggiran hutan, Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng. Pagi itu, pukul 08:00 tak biasanya semua warga tumpah ruah keluar rumah. Mulai dari anak-anak hingga orang tua lanjut usia menyatu dengan kabut tebal dan udara dingin pegunungan lereng Gunung Slamet ini.

Di desa berpenduduk sekitar 2.079 jiwa tersebut, semua warga dan sesepuh desa berkumpul bersama untuk melakukan pesta rakyat. Setiap gerumbul (RW) menyiapkan berbagai atraksi kesenian yang dimiliki.

Dalam pesta utama yang digelar di lapangan desa kompleks balai desa, panitia menyiapkan acara inti arak-arakan. Dalam arak-arakan tersebut turut dibawa berbagai jenis sajian berupa aneka hasil bumi dan semua simbol penghidupan.

Semua jenis hasil bumi mulai dari sektor seperti padi, jagung, kacang, ketela, pisang dibawa. Anehnya simbol hasil bumi itu disajikan secara utuh. Misalnya padi, diambil mulai dari akar sampai untaian butirannya, umbi sampai pohon dan pisang bersama ponggolnya.

Hasil hutan, berbagai jenis pohon juga diambil. Kalau pohonnya besar cukuplah diambil dahan atau rantingnya. Termasuk juga rumput. Simbol air diambil dari tujuh sumber air yang berada di sekitar desa. Air itu dimasukkan dalam bambu yang dibentuk seperti bumbung. Semua alat pertanian seperti cangkul, garulading, dan mainan panggal turut dibawa. Yang punya ternak juga ikut dibawa, seperti kambing dan ayam.

”Semua penghidupan yang berhubungan dengan warga sini ikut diarak. Itu dilakukan sebagai bentuk menyatunya warga dengan alam,” kata Muhammad Faturrohman, selaku Sekretaris Desa Melung.

Arak-arakan dimulai dari masing-masing gerumbul. Setiap gerumbul menyiapkan sesaji. Saat mereka bergerak menuju pusat desa, setiap rombongan berpenampilan lengkap dengan dandanan Jawa. Mereka juga diiringi dengan berbagai musik tradisional seperti kenthongan dan aneka mainan lain.

Sejumlah lelaki kekar yang bertugas membawa sesaji diarak di bagian depan. Di belakangannya beriringan warga masing-masing gerumbul. Dalam arak-arak tersebut turut dibawa aneka makanan tumpengan, mulai yang besar sampai yang kecil-kecil. Semua tumpeng dan hasil bumi yang dibawa warga dikumpulkan dalam gelaran bersama di lapangan.

”Kita berdoa bersama sebagai wujud selamatan. Setelah itu, kita makan bersama-sama,” ujar Sungging Septisianto, salah seorang sesepuh desa.

Puncak prosesi dilakukan dengan menggelar wayang kulit, siang harinya. Ruwatan dipandu oleh ki Dalang Nalim Sumardi, yang meruwat desa tersebut. Setelah itu dilanjutkan rebutan aneka sesaji yang dibawa warga. Aneka makanan itu diperebutkan karena dipercaya mengandung berkah. Persiapan acara utama dilakukan sejak tiga hari sebelumnya. Untuk membahasnya dilakukan jauh hari sebelumnya lewat rembuk desa.(Agus Wahyudi-55s)