ProfilSejarah DesaTab 3Tab 4Tab 5

Desa Melung adalah sebPeta Datar Desa Melunguah desa yang terletak di lereng kaki Gunung Slamet. Masuk dalam wilayah Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas. Desa dengan jumlah penduduk 2.265 jiwa (data desa 2015) Secara geografis sebelah utara berbatasan dengan hutan negara (Perhutani). Sebelah timur berbatasan dengan Desa Ketenger dan Desa Karangtengah Kecamatan Baturaden. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kutaliman dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Windujaya.

Desa Melung memiliki topografi berbukit-bukit dengan kemiringan rata-rata 45% dan berada pada ketinggian rata-rata 400-700 dpl. Jenis tanah yang pada umumnya adalah latosol dengan batuan vulkanik jenis andesit.

CendanaDesa Melung memiliki luas wilayah 289,89 hektar yang tediri dari tanah swah 61,25 hektar, tanah pekarangan 67,45 hektar, tanah tegalan atau perkebunan rakyat 167,89 hektar serta peruntukan lainnya sejumlah 17,67 hektar.

Merupakan daerah pegunungan dengan iklim yang sejuk dengan suhu rata-rata antara 20 sampai 29 derajat celcius dan kelembaban rata-rata 70%-85% serta curah hujan mencapai 3000-3500 mm/tahun.

Desa Melung terbagi atas empat (4) RW dan 17 RT yang berada dalam dua kepala dusun yaitu dusun I dan dusun II. Dusun I memiliki wilayah Grumbul Depok dan Grumbul Kaliputra, dusun II Grumbul Melung dan salarendeng. Dengan budaya gotong royong yang masih begitu melekat, Desa Melung dapat berkembang mengikuti jaman.

Cerita atau legenda rakyat tentang desa Melung adanya Syech R. Abdulrahman (Kyai Melung) sebagai pendiri dan sesepuh desa Melung yang tidak tercatat dalam dokumen sejarah terjadinya desa Melung namun diceritakan secara turun temurun. Cerita yang turun temurun terus tersebut dilakukan orang tua kepada anak-anaknya atau generasi penerusnya tidak lepas dari sejarah kadipaten Pasir Luhur, sebagai tempat persinggahan dan perlintasan R. Kamandaka dan para prajurit Kadipaten Pasir Luhur. Pada suatu saat para prajurit dalam perlintasannya mendengar adanya ayam R. Kamandaka berkokok dikejauhan yang sangat keras bunyinya (melung-melung) disuatu wilayah maka sumber suara ayam berkokok itu ditandai sebagai daerah Melung yang dahulu masuk kedalam Kecamatan Kebumen dan baru sekitar tahun 1955-an dimasukkan kedalam Kecamatan Kedungbanteng. Lalu versi kedua adalah dengan adanya R. Singo Guna yang merupakan keturunan dari R. Honggo Wongso putra dari R. Klapa Aking atau R. Kolopaking. R. Honggo Wangsa menurunkan R. Niti Menggolo kemudian R. Niti Menggolo menurunkan anak bernama R. Kalioso (Syech Abdul Djalal) lalu menurunan anak bernama R. Singo Guna yang hidup di desa Melung. Setelah itu masuk lagi keturunan Kakak R. Singo Guna yaitu R. Suro Handoko dan R. Suro Menggolo. Putra R. Suro Handoko yang bernama R. Sagi (R. Wirya Dikrama) memimpin desa Melung.
Pada jaman penjajahan Belanda desa Melung merupakan kebun kopi yang sangat
luas dan terkenal di negara Belanda dengan kopi kampungnya, seiring wilayah tersebut yang memiliki potensi sumber daya air yang melimpah maka pada tahun 1928 didirikan PLTA Ketenger yang sesungguhnya berada di Desa Melung.
Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang yang tercatat s
ejak tahun 1905 sampai dengan tahun 1940 Kepala Desa yang sejak jaman dahulu disebut Lurah dipimpin oleh Suradirana. Setelah masa kemerdekaan maka kepemimpinan digantikan oleh Mulyadirana lalu dilanjutkan dengan Wiryo Sukatmo. Pembangunan yang dihasilkan tidak tercatat karena sumber daya manusia yang ada sangatlah kurang pada masa itu. Selanjutnya kepemimpinan desa Melung adalah :

  1. SURYADIRANA
  2. MULYADIRANA
  3. WIRYO SUKATMO
  4. MURSIDI
    Memegang jabatan hampir 20 tahun, bersama sekretaris desanya tewas dibunuh pemberontak DI/TII Darul Islam yang berada di Desa Melung, karena desa Melung dijadikan tempat pelarian dan persembunyian para pemberontak DI/TII pimpinan Kartosuwiryo. Hasil pembangunan yang dicapai belum begitu nampak karena masyarakat kondisi pada saat itu banyak pemberontakan yang terjadi sejalan dengan sejarah bangsa Indonesia adanya pemberontakan G30S/PKI dan pemberontakan DI/TII.
  5. MARTAREDJA
    Pembangunan baru dapat dilaksanakan setelah tahun 1965 pada saat Desa Melung dipimpin oleh lurah Martareja yang dilakukan yaitu :
    a. Pembukaan jalan setapak menjadi jalan besar antara desa Melung sampaii desa Windujaya
    b. Jalan antara Kaliputra sampai dengan desa Kutaliman.
    c. Pembangunan kantor dan balai desa.
    d. Pembangunan lapangan desa.
  6. KUSNADI
    Adalah sekretaris desa yang menjadi pejabat Kepala Desa dari tahun 1988 sampai dengan 1992 karena ada kekosongan Kepala Desa
  7. SLAMET

    Memegang jabatan dari tahun 1992 –1994 cukup banyak adanya pembangunan hanya melanjutkan kerja dari Lurah terdahulunya. Pembangunan yang telah dilaksanakan adalah :
    –  Pembangunan dam atau bendungan Watugayong
    –  Pembangunan WC/Kamar mandi umum
    –  Pembangunan pasar desa
    –  Pembangunan listrik masuk desa

  8. KUSNADI
    Menjadi pejabat Kepala Desa dari tahun 1994 sampai dengan tahun 1995
  9. SIRUM MAHMUDIN
    Menjadi Kepala Desa dari tahun 1994 sampai dengan tahun 2002 dengan hasil pembangunan berupa :
    – Pembangunan sarana air bersih
    – Pembangunan jembatan kali manggis
    – Pengerasan Jalan Selarendeng sampai desa Kalikesur
    .

Tab 2 content

Tab 3 content
Tab 4 content
Tab 5 content