Pupuk merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting dalam proses produksi hasil-hasil pertanian. Disamping pupuk juga ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi hasil pertanian, seperti pengairan, pola tanam dan juga perlakuan terhadap alam itu sendiri.

Kalau mendengar cerita dari orang-orang tua (sesepuh desa) bahwa dahulu mereka tidak memerlukan pupuk dalam mengolah tanah baik sawah maupun tegalan. Tentu ini sesuatu yang sangat menarik, bagaimana mungkin sawah yang tidak dipupuk bisa menghasilkan. Sedangkan dipupuk saja hasilnya terkadang tidak sesuai dengan yang di harapkan.

Menurut cerita yang dituturkan oleh Suwarjo (57) warga masyarakat Desa Melung, “Dahulu menggarap sawah sangatlah gampang, tidak perlu pupuk (pupuk kimia) dan hasilnya sangat memuaskan”. Tidak adanya pemupukan karena memang pada waktu itu belum ada pupuk mereka hanya mengandalkan daun-daunan yang dibusukan sebagai pupuk. Dan sawah hanya ditanami tanamana padi sekali dalam satu tahun selebihnya ditanami palawijaya seperti jagung, ketela, ubi jalar dan lain sebagainya.

 Perlakuan terhadap kehidupan sekeliling juga sangat mereka perhatikan baik itu terhadap alam, tanaman dan juga terhadap mahluk-mahluk yang tidak terlihat sekalipun. Hal ini bisa dilihat ketika mereka akan memulai sebuah pekerjaan baik pada saat akan menanam ataupun memanen. Diawali dengan sebuah doa, permintaan ijin dan juga memberikan sesaji sebagai ungkapan rasa syukur dan berbagi terhadap sesama mahluk ciptaan Tuhan kerap mereka lakukan. Dengan harapan apa yang mereka perbuat mendapat keberkahan dan keselamatan.

 Biasanya untuk memulai pemanenan terlebih dahulu minta ijin terhadap Dewi Sri sebagai perlambang tanaman padi “Dewi Sri tek tibani wesi kuning waja kuning aja kaget”. Dengan terlebih dahulu menyediakan sesaji berupa bubur abang putih dan ketupat serta lauk apa adanya. Dan pada waktu itu memang tidak ada yang namanya gepyok (merontokan padi dengan membenturkan pada batu), masih dengan menggunakan ani-ani.

Perlakuan kasar terhadap tanaman padi juga bukan saja pada saat gepyok tapi juga pada saat ndaut mencabut benih untuk ditanam. Pencabutan yang terkesan dilakukan dengan paksa karena memang tanahnya keras dan biasanya tercabut sama tanahnya. Berbeda dengan dahulu karena tanahnya gembur jadi sangat mudah untuk mencabutnya.