Lesung merupakan alat untuk menumbuk padi. Terbuat dari kayu yang berukuran seperti pohon utuh. Kemudian dilubangi bagian tengahnya, persis seperti perahu. Panjangnya kurang lebih 2 – 3 meter.

Dahulu belum ada mesin penggiling padi, untuk memisahkan bulir-bulir beras dan sekam diperlukan alat. Alat inilah dinamakan lesung. Lesung tersebut digunakan untuk menguliti gabah menjadi beras dengan dibantu alat yang namanya alu sebagai penumbuknya.

Kerukunan dan keguyuban kala itu masih sangat kuat terjaga. Jika ada salah seorang warga desa yang mempunyai khajat entah itu mengawinkan anak atau mengkhitankan anak tentu membutuhkan banyak beras sebagai pelengkap upacara syukuran. Dari situlah kemudian warga desa bahu-membahu membantu menumbuk beras atau “nutu”.

Karena bentuk lesung seperti kentong (berlubang) maka ketika alu sebagai alat penumbuk dijatuhkan pada lesung akan menimbulkan bunyi yang nyaring. Sambil menunggu teman untuk mengawali menumbuk padi maka dimulailah kotekan.

Kotekan juga sebagai isarat bahwa ada salah satu warga desa yang sedang mempunyai hajat. Setelah mendengar adanya kotekan maka akan berdatangan warga desa untuk membantu menumbuk padi.

Setelah menumbuk padi selesai biasanya mereka melakukan kotekan sebagai hiburan. Perpaduan suara dari setiap sisi lubang lesung menghasilkan irama yang sangat merdu ditelinga. Apalagi disertai dengan nyanyian dengan menyesuaikan dengan irama yang ada.

Berikut adalah lirik tembang kotekan, yang termasyhur pada saat itu. “Lesung jumengglung sru imbal-imbalan. Lesung jumengglung manengkeng manungkung, ngumandang ngebaki sak jroning padesan. Tok tok tek tok tok gung tok tok tek tok tek tong gung.

Dari perpaduan irama musik disertai dengan suara tembang merangsang beberapa orang untuk melakukan tarian atau njoget. Benar-benar sebuah hiburan pada saat itu. Tapi itu dulu kawan, sekarang kesenian kotekan lesung hampir jarang dilakukan.