Melihat anak bermain disawah merupakan sebuah pemandangan yang jarang kita lihat pada saat ini. Mereka lebih banyak menghabisakan waktu dirumah. Asik dengan telephon genggam dengan begitu banyak permainan didalamnya. Atau memilih untuk menonton televisi, ketimbang sekedar bermain dengan teman sebaya.

Kondisi seperti itu tidak hanya menimpa anak di kota, yang jauh dari kotapun dan yang lebih menyedihkan ternyata itu terjadi di desa yang jauh dari kota. Walaupun pada umumnya kehidupan antara anak dan lahan persawahan begitu dekat.

Sawah, dulu menjadi arena bermain bagi anak-anak. Sekedar menangkap belalang atau bermain lumpur. Mereka juga bisa mengejar katak, mencari ikan, berlarian dipematang sawah. Meskipun baju kemudian menjadi kotor karena berkali-kali harus terjatuh dilumpur sawah.

Mengikuti aktifitas orangtua sebagai petani. Tidak hanya bermain mereka juga bisa belajar mencintai alam dan mengenal lebih jauh tentang proses makanan yang setiap hari dimakan. Dengan belajar dan merasakan tentunya anak-anakpun bisa menghargai dan bersahat dengan alam.

Sekarang ini anak-anak berkumpul dengan kawan sebayanya hanya duduk tetapi sibuk dengan angan-angan dan khayalan masing-masing.

Berangkat dari sebuah keprihatinan kami mencoba membuat sebuah wahana untuk bermain bagi anak-anak dengan memanfaatkan lingkungan alam yang ada dengan sentuhan kreativitas kader-kader desa.

Sederhananya adalah anak-anak bisa bermain dan bergembira. Yang bahagianya itu nyata dapat dirasakan bukan sesuatu yang bersifat semu.