Berburu dengan cara tradisional

Akhir-akhir ini sekelompok pemuda dengan mengendarai sepeda motor dan membawa peralatan berburu seperti senapan angin sering terlihat di Kawasan Desa Melung.  Dengan berpakaian ala tentara merekapun menuju medan perang, tapi kondisi lagi aman bukan jaman perang.  Mereka hanya menuju kawasan hutan dan melakukan perburuan binatang.

Mereka itu kebanyakan warga dari luar desa.  Dari beberapa kali terlihat tangkapan mereka pada umumnya adalah burung dan bajing (tupai).   Dan sesekali mereka juga kerap membawa monyet atau kera hasil buruan.

” Keberadaan para pemburu liar ini sangat mengkhawatirkan, karena di lahan kawasan hutan negara yang masuk pada petak pangkuan Desa Melung banyak sekali satwa yang terancam punah dan juga dilindungi, salah-salah mereka akan memburu hewan-hewan endemik Gunung Slamet seperti Elang Jawa dan juga Owa Jawa yang keberadaanya sudah sangat jarang ” , seperti dituturkan oleh Agung Budi Satrio Kepala Desa Melung.

Kawasan hutan Gunung Slamet memang menjadi habitat beberapa hewan-hewan yang dilindungi dan keberadaanya sudah hampir punah.  Berbagai upaya warga masyarakat, pemerintah desa dan juga pemerhati lingkungan yang ada di Purwokerto untuk melestarikan satwa juga pernah dilakukan.  Seperti penanaman pohon yang secara otomatis akan menambah jumlah ketersediaan pakan.  Dan juga pelepasliaran satwa (Elang Jawa) yang merupakan endemik asli.

Burung yang malang

Disamping perburuan dengan menggunakan senjata, penangkapan burung juga kerap dilakukan dengan jala atau jaring.  Bedanya kalau penangkapan dengan jala biasanya hal ini dilakukan agar hasil tangkapan tetap hidup untuk kemudian dijual ke pasar.   Apris salah satu anggota Biodiversity Society Purwokerto yang hampir setiap minggu melakukan pemantauan dan monitoring ke kawasan hutan Gunung Slamet sering menjumpai beberapa pasang jaring.

Mereka berburu ada yang lantaran hobi dan ada yang menjadi sumber penghidupan.  Apabila berburu dengan senapan angin hewan ditembak lebih banyak mati baik itu burung atau bajing.

Keprihatinan atas maraknya perburuan juga disampaikan oleh Narwin selaku Kepala Dusun ” Banyaknya aksi perburuan ini sudah sangat merisaukan, beberapa kali kami menjumpai mereka membawa senapan dengan hasil tangkapan berburu, jangan sampai kedepan anak cucu kita malah tidak tahu apa yang dinamakan Dok Jali padahal burung tersebut merupakan burung yang menempati kawasan hutan Gunung Slamet, dan merupakanburung lambang Garuda”