Dalam sebuah obrolan yang sama sekali tidak bertema.  Narwin (38) sebagai Kepala Dusun di Desa Melung, mengajak masyarakat untuk berbicara tentang lingkungan yang berada di sekitar Desa Melung.  Bermula dari keresahan petani dalam mengelola lahan pertaniannya, banyaknya hama penggangu tanaman yang dampaknya bisa menurukan hasil produksi.

Kendala yang dialami petani dalam mengelola lahan pertanian disampaikan dengan semangat oleh beberapa petani.  Dari beberapa keluhan yanga dialami petani adalah adanya serangan tikus dan juga wereng.  Tanah yang semakin memadat (keras),  sulitnya air dan juga mahalnya biaya obat-obatan termasuk harga pupuk yang selangit juga merupakan catatan dalam obrolan tersebut.

Menanggapi keluhan yang disampaikan petani, Narwin mengajak petani untuk mencoba mengingat-ingat apakah kejadian seperti ini juga dialami petani dimasa lalu, dan bagaimana cara penanganannya.

Menurut Suwarjo (78) salah seorang petani di Desa Melung bahwa yang namanya wereng itu dari dulu juga sudah merupakan ancaman gangguan, akan tetapi cara penangannya cukup mudah hanya dengan menyapunya dengan daun salak.  Dimasa lalu petani juga tidak dipusingkan dengan mahalnya harga pupuk, karena memang dalam mengolah lahan pertanian (sawah) tidak memerlukan pupuk.  Pupuknya ya cuma air, pokoknya tidak ada yang namanya pupuk.

Dalam mengolah sawah juga tidak seperti sekarang, tidak terlalu memaksakan untuk selalu menanam padi. Dan biasanya diselingi dengan tanaman jagung atau sejenisnya membiarkan atau mengistirahatkan lahan.  Tapi sebenarnya ada masa sulit air (kemarau) dan dipergunakan untuk menanam selain padi.

Mengenai banyaknya serangan hama tikus, banyak petani yang menyadari bahwa sekarang sudah tidak terlihat lagi ular sawah sebagai pemangsa tikus.  Hal ini yang menyebabkan meningkatnya populasi tikus, walaupun masih sering terdengar suara burung hantu dimalam hari yang juga pemangsa tikus sawah.

Dari cerita tersebut mudah-mudahan kita bisa belajar dan memahami bahwa kita hidup di dunia ini tidak sendiri, dan marilah kita saling menjaga dan hidup berdampingan dengan mahluk ciptaan Tuhan.  Karena Tuhan menciptakan segala sesuatunya dalam keadaan baik, tinggal kita yang harus menghargai satu dengan yang lainnya, begitu pungkas Narwin dalam obrolan yang tidak bertema.