Penulis: Budi Ragiel

Konflik Identitas Desa Melung : Sebuah Refleksi

Jika anda mencoba untuk mencari Desa Melung di mesin pencari Google, anda akan mendapati ragam julukan Desa Melung yang sebagian besar berkaitan dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). “Desa Internet”, “Desa Melek IT”, dan “Desa TIK” merupakan beberapa di antaranya. Anda pun akan mendapatkan berbagai macam liputan dari media massa arus utama yang mayoritas sudut pandang beritanya menitikberatkan pada aspek teknologi. Tengok situs berbagi video YouTube dan masukkan kata kunci “Melung”, di sana anda akan diantarkan pada daftar video yang menampilkan profil Desa Melung sebagai desa yang jauh dari perkotaan, namun penduduknya sudah memiliki kesadaran akan pentingnya pemanfaatan teknologi, khususnya TIK dalam pembangunan desa. Video profil dengan judul “Melung, Kisah Sebuah Desa Internet” adalah salah satunya. Beberapa media massa arus utama pun seakan berlomba untuk memberitakan kisah Desa Melung yang termasuk maju dalam pengelolaan TIK jika dibandingkan dengan desa-desa lainnya. Tercatat Metro TV, SCTV, dan TEMPO TV pernah membuat liputan tentang Desa Melung dari perspektif ini. Beragam testimoni di dunia maya dari orang-orang yang pernah berkunjung ke Desa Melung juga menyatakan apresiasi yang positif atas prestasi warga Desa Melung di bidang TIK. Hal ini dibuktikan melalui penghargaan yang diberikan Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dengan ditetapkannya Desa Melung sebagai Community Access Point dalam sebuah seremonial Festival DesTIKa tahun 2013 yang bertempat di Balai Desa Melung, Kab. Banyumas. Namun jika anda berkunjung ke Desa Melung dari arah Utara/Timur yang berbatasan...

Read More

FPRB Desa Melung Mengikuti Cities on Volcanoes 8 Yogyakarta

Tim FPRB sedang melakukan pertolongan pertama (simulasi) Pada tanggal 13 September 2014, anggota Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Desa Melung mengikuti pertemuan cities on volcanoes.  Cities On Volcanoes (COV) merupakan forum bergengsi konferensi tingkat dunia tentang kegunungapian. COV tersebut diadakan setiap dua tahun sekali. Untuk pertemuan yang ke 8 kalinya bertempat di Indonesia (Daerah Istimewa Yogyakarta) tepatnya di Graha Sabha Pramana universitas gajah mada pada 9 – 13 September 2014. Sebanyak 487 peserta dari 38 negara berpartisipasi dalam acara tersebut. Kerjasama antar pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat dalam pengembangan peringatan dini, mitigasi, kesiapsiagaan, proses evakuasi dan rehabilitasi menjadi menjadi bagian penting dalam sistem informasi dan komunikasi dalam forum internasional. Konferensi tingkat dunia ini terselenggara atas kerjasama antara Badan Geologi – Kementrian ESDM, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten Sleman dan Universitas Gadjah Mada. CoV 8 diikuti 487 peserta dari 38 negara dari lima benua, yakni Afrika, Eropa, Asia, Amerika, dan Australia.  Konferensi diikuti peserta yang terdiri atas para peneliti/akademisi bidang kegunungapian dan mitigasi bencana, pemerintah, praktisi, tokoh masyarakat, dan budayawan. Lomba cerdas cermat pengetahuan kebencanaan antar tim siaga desa di Kota Yogyakarta menjadi adalah ajang praktek dalam penanganan dalam menghadapi kebencanaan. Tak ketinggalan tim FPRB Desa Melung yang diwakili oleh Rositi (30), Narwin (37), Kaisnayanti (37) dan Sahlan (23) dengan antusias mengikuti acara tersebut. Kegiatan yang terdiri dari simulasi pertolongan pertama dalam penanganan korban bencana dan seminar berlangsung dari pagi hingga...

Read More

Laporan Riset Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM

Perkembangan media baru mengaburkan batasan antara media dengan audiens. Keberadaan media baru memungkinkan setiap orang menjadi produsen informasi. Produksi informasi tidak lagi dimonopoli oleh media. Hal ini membawa dampak signifikan dalam dunia jurnalisme. Pengertian jurnalisme konvensional yang memberikan otoritas bagi jurnalis ‘profesional’ sepertinya harus dikaji ulang. Di era dimana setiap orang mampu membuat medianya sendiri dan memproduksi informasi membuat jurnalis ‘profesional’ tidak lagi memegang otoritas tunggal. Hal ini menyuburkan apa yang disebut dengan Jurnalisme Warga. Disamping itu, produksi informasi tidak lagi dikuasai oleh kelompok masyarakat ‘terdidik’ dan ‘modern’. Keberadaan media baru memungkinkan berbagai komunitas akar rumput memperoleh kesempatan bicara. Termasuk Desa. Membayangkan bagaimana ketika Desa mengenal Media Baru. Bagaimana ketika Desa mempunyai otoritas untuk mengelola informasi dan menyuarakan dirinya kepada khalayak luas. Disinilah fenomena ini menjadi menarik untuk dikaji lebih dalam. Gerakan Desa Membangun yang bergerak sangat cepat di Kabupaten Banyumas menjadi satu objek kajian ilmiah yang menarik. Masyarakat desa yang selama ini tidak banyak dilirik media tiba-tiba berubah menjadi produsen informasi yang produktif dan membuat Desa mereka ‘terlihat’ oleh dunia. Dalam konteks inilah kecenderungan produk jurnalisme warga menjadi penting untuk dilihat lebih lanjut. Dari serangkaian penelitian yang dilakukan, peneliti mendapatkan berbagai kecenderungan menarik. Pertama, meskipun secara kumulatif jumlah konten berita cukup signifikan, konsistensinya belum cukup baik. Kedua, konten berita lebih banyak berbicara potensi desa dibandingkan dengan masalah. Artinya, ada optimisme yang ingin dihadirkan melalui media warga ini. Ketiga,...

Read More

Sepincuk Kisah dari Melung (3): Mental Madinah dalam diri Warga Melung

Sembari mengerjakan tugas akhir mengenai GDM, biasanya saya menyelinginya dengan menonton serial Ramadhan Omar. Alasannya, supaya tidak mengantuk (walaupun pada akhirnya jadi keterusan nonton…he.. he.. )! Serial Omar mengisahkan tentang perjalanan hidup Umar bin Khattab, salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Dalam serial tersebut, dikisahkan bagaimana Madinnah menyambut baik kedatangan Rasulullah SAW yang hendak berhijrah. Tak hanya menyambut baik kedatangan Rasulullah SAW, mereka juga menyambut Rasulullah SAW sebagai imam pemerintahan mereka. Padahal, sang Nabi bukanlah “putra daerah” Madinah. Pada perkembangan Islam selanjutnya, di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, pasukan Islam membebaskan Suriah, Palestina, dan Mesir dari cengkraman Romawi. Kekaisaran Romawi Byzanthium dikenal sebagai bangsa yang memaksakan doktrin keagamaan pada masyarakat yang dipimpinnya. Yang berbeda keyakinan: syiikatttt! Sedang ketika Islam membebaskan mereka, keadaannya berbalik. Islam justru mempersilakan penduduk ketiga wilayah tersebut menganut keyakinan mereka masing-masing. Pengelolaan pemerintahan, keadilan, hukum, dijalankan dengan penuh kewaspadaan oleh gubernur muslim yang menjabat atas dasar hukum Islam. Yang terdipimpin pun tak merasa sedang dijajah. Saya ambil satu contoh yang bagi saya amat menjelaskan bukti betapa adilnya Islam jika dijalani oleh Muslim bertakwa. Seorang kristen Qibti jelata di Mesir yang merasa terhina karena dipukul oleh anak gubernur Mesir, Amr bin Ash pun difasilitasi haknya untuk balas dendam. Pada saat itu sang Qibti dan putra gubernur, Muhammad bin Amr tengah bertanding balapan kuda. Yang menjadi pemenang adalah sang Qibti. Merasa harga diri sebagai anak pejabat tersaingi, kontan...

Read More

Sepincuk Kisah dari Melung (2): Ihwal Gerakan Desa Membangun

Dengan pengadaan situs di ratusan desa yang tergabung dalam gerakan akar rumput tersbeut, GDM mengarahkan agar TIK (melalui situs dan jejaring sosial) dimanfaatkan untuk memproduksi tiga varian konten untuk tiga jenis masyarakat yang disasar. Sasaran pertama adalah warga desa. Warga desa yang sedang tinggal di kota ataupun antar desa yang ingin saling berbagi pengalaman. Mereka memperkuat diri dengan cara menghangatkan kekerabatan dan belajar antar mereka lewat situs dan jejaring sosial. Level kedua yang disasar adalah kelas menengah yang memiliki akses komunikasi dan informasi yang memadai. Mereka memiliki pengaruh untuk mendorong pembangunan desa menjadi kian baik. Kelas menengah yang dimaksud adalah mahasiswa, sosialitas, pekerja profesional, akademisi, wirausaha, serta siapa saja yang bisa membantu pengembangan desa– maupun menyebarluaskan kembali gagasan desa. Level ketiga adalah penentu kebijakan. Target GDM adalah perubahan kebijakan. GDM ingin pengalaman baik yang desa-desa jejaring GDM lakukan diserap menjadi rujukan pembuatan kebijakan dan hukum. Karena itu, GDM terlibat aktif dalam advokasi kebijakan baik Peraturan Daerah (Perda) maupun Undang-undang (UU). Upaya pemberdayaan masyarakat desa melalui TIK pun mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan. Dengan situs resmi berdomain desa.id, beberapa desa memiliki sarana mempromosikan kabar, keunikan, potensi, serta produk unggulannya ke ruang publik. Melihat situs resmi desa Melung, melung.desa.id, saya dapat menemukan berita terbaru mengenai perkembangan hulu sungai di Desa Melung, laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, panduan tanggap bencana, hingga artikel tips membuat jus alpukat yang enak. Desa tetangga Melung,...

Read More

FACEBOOK

https://www.facebook.com/pasarmelung.id/

Pasar Melung

Pengalaman di Desa Melung