Penulis: admindesa

Hujan Deras Mengakibatkan Longsor

Melung 4/12, Hujan yang deras mengakibatkan tanah longsor dibeberapa titik. Disamping hujan, longsor juga diakibatkan faktor tanah yang labil. Tercatat ada 4 titik longsor ringan, salah satunya pada ruas jalan Melung-Kutaliman. Tepatnya berada di Grumbul Salarendeng. Akibat longsor ruas jalan tersebut tidak bisa dilalui kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Berkat kesigapan masyarakat dalam mengatasi bencana, jalan sudah bisa digunakan seperti sediakala. Berbagai unsur lembaga masyarakat seperti FPRB, Tagana dibantu oleh BPBD dan masyarakat sekitar bahu membahu mengatasi longsor. Ditengah rintik gerimis yang masih turun, tidak mengurangi semangat dalam membersihkan longsoran tanah. Sementara pada titik longsor yang lain dikerjakan keesokan harinya. Kesigapan dan semangat kegotongroyongan menjadi kekuatan dalam menghadapi...

Read More

Belajar Dari Petani

Ceritanya pagi ini Sabtu (10/10) empat orang dari SMA 1 Patikraja sedang menjalankan tugas sekolah. Demi sebuah tugas mereka rela menempuh jarak puluhan kilometer, dari Patikraja ke Desa Melug Kecamatan Kedungbanteng. Adalah Firman, Bakhits, Mora dan Salsa, yang merupakan siswa dari SMA 1 Patikraja. Kedatangan empat siswa ke Desa Melung adalah dalam rangka berdiskusi dengan petani tentang budidaya tanaman pangan. Walaupun temanya adalah diskusi tentang tanaman pangan tapi dalam diskusi lebih fokus ke tanaman selada air. Mulai dari pembenihan, penanaman, perawatan, pemanenan dan juga pemasaran. Sebagai seorang petani, Karinah menjelaskan secara rinci dari mulai pembenihan sampai dengan pemasarannya. Hasil diskusi tersebut dicatat dan didokumentasikan. Nantinya akan dipresentasikan...

Read More

Menulis Dan Merekam Sejarah

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. ==> Pramudya Pagi ini saya membereskan arsip-arsip desa, merapihkan dan mencoba mengurutkan arsip-arsip desa berdasarkan tahun. Tumpukan kertas yang terbungkus dalam stopmap berjejer dalam ruang arsip desa. Tanpa sengaja saya melihat sebuah buku yang pada pojokannya sudah robek-robek. Buku dengan judul “Register Keputusan Desa” buku yang mencatat proses kegiatan pada tahun 1972. Buku tersebut merupakan buku catatan tentang proses musyawarah, seperti notulensi rapat. Yang menarik dari buku tersebut adalah tulisan, rangkaian kata serta ejaanya. Tulisan terlihat rapi yang semuanya miring kesebelah kanan dengantulisan (saya menyebutnya) latin. Masih menggunakan ejaan lama seperti ketika menulis kata dulu disitu tertulis doeloe. Salah satu catatan yang sempat saya baca adalah tentang proses musyawarah dalam pembuatan jembatan Kali Manggis yang dibangun pada tahun 1972. Dimana dalam catatan masyarakat memandang perlu untuk segera membuat jembatan penghubung antar dua grumbul.┬áJembatan yang dibangun dengan biaya kurang lebih 458.178 (empat ratus lima puluh delapan ribu seratus tujuh puluh delapan rupiah. Menulis adalah suatu proses perekaman sejarah, begitulah kiranya yang sampai hari ini saya asumsikan. Bagaimana tidak merekam sejarah? Ketika kita menulis maka secara tidak langsung terjadilah proses perekaman dari apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan, dan apa yang kita dengar, semua terekam dalam bentuk catatan. Itulah sebabnya saya katakan menulis adalah merekam sejarah. Lantas kemudian pertanyaan yang menghantui...

Read More

Kesenian Kotekan Lesung

Lesung merupakan alat untuk menumbuk padi. Terbuat dari kayu yang berukuran seperti pohon utuh. Kemudian dilubangi bagian tengahnya, persis seperti perahu. Panjangnya kurang lebih 2 – 3 meter. Dahulu belum ada mesin penggiling padi, untuk memisahkan bulir-bulir beras dan sekam diperlukan alat. Alat inilah dinamakan lesung. Lesung tersebut digunakan untuk menguliti gabah menjadi beras dengan dibantu alat yang namanya alu sebagai penumbuknya. Kerukunan dan keguyuban kala itu masih sangat kuat terjaga. Jika ada salah seorang warga desa yang mempunyai khajat entah itu mengawinkan anak atau mengkhitankan anak tentu membutuhkan banyak beras sebagai pelengkap upacara syukuran. Dari situlah kemudian warga desa bahu-membahu membantu menumbuk beras atau “nutu”. Karena bentuk lesung seperti kentong (berlubang) maka ketika alu sebagai alat penumbuk dijatuhkan pada lesung akan menimbulkan bunyi yang nyaring. Sambil menunggu teman untuk mengawali menumbuk padi maka dimulailah kotekan. Kotekan juga sebagai isarat bahwa ada salah satu warga desa yang sedang mempunyai hajat. Setelah mendengar adanya kotekan maka akan berdatangan warga desa untuk membantu menumbuk padi. Setelah menumbuk padi selesai biasanya mereka melakukan kotekan sebagai hiburan. Perpaduan suara dari setiap sisi lubang lesung menghasilkan irama yang sangat merdu ditelinga. Apalagi disertai dengan nyanyian dengan menyesuaikan dengan irama yang ada. Berikut adalah lirik tembang kotekan, yang termasyhur pada saat itu. “Lesung jumengglung sru imbal-imbalan. Lesung jumengglung manengkeng manungkung, ngumandang ngebaki sak jroning padesan. Tok tok tek tok tok gung tok tok tek tok...

Read More

FACEBOOK

https://www.facebook.com/pasarmelung.id/

Pasar Melung

Pengalaman di Desa Melung