Penulis: admindesa

Situs Batur Macan terletak di Dukuh Kaliputra, Desa Melung

Situs Batur Macan terletak di Dukuh Kaliputra, Desa Melung, ditengah-tengah areal perkemahan Perhutani. Dinamakan situs Batur Macan menurut cerita masyarakat setempat, situs tersebut pinggirannya terdapat tumpukan batu yang menyerupai pondasi (batur dalam bahasa Jawa) dan sering dijumpai adanya seekor harimau (macan) di sekitar lokasi tersebut, bahkan situs tersebut dianggapnya sebagai kuburan harimau (macan). Sebenarnya situs tersebut merupakan punden berundak yang berfungsi sebagai tempat pemujaan kepada arwah nenek moyang pada masa prasejarah yang berorientasi ke arah utara dan selatan dengan mengagungkan gunung Slamet yang dianggapnya sebagai tempat bersemayamnya para arwah nenek moyang. Di sekitar situs tersebut tepatnya di sebelah timur terdapat aliran sungai yang digunakan sebagai tempat bersuci pada masa prasejarah, sebelum memasuki tempat pemujaan arwah nenek moyang. Peninggalan yang terdapat di lokasi situs tesebut antara lain tatanan batu yang berfungsi sebagai altar persembahan sesaji kepada arwah nenek moyang dan dua buah batu menhir besar dan kecil dengan bahan dasar batu andesit, batu menhir yang besar berukuran tinggi 37 cm, garis tengah 20 cm, sedangkan batu menhir yang kecil berukuran tinggi 23 cm, garis tengah 20 cm. Batu menhir tersebut berfungsi sebagi sarana ritual dan dianggapnya sebgai tempat bersemayamnya roh nenek moyang. Luas situs secara keseluruhan panjang 6 m dan lebar 5,8 m, sedangkan luas areal sekitar situs panjang 15 m dan lebar 10,5 m. Lokasi situs tersebut berada pada kertinggian 700 m dari permukaan laut. Pengelolaan pemeliharaan situs tersebut...

Read More

Saat Bencana Angin RIbut Listrik Padam

Selama tiga hari terakhir, 25-27 Januari 2012, warga Desa Melung tak bisa tidur nyenyak. Siap saat mereka harus siaga untuk menyelamatkan diri saat angin kencang melanda desa. Meski pada sore hari langit cerah, malam harinya warga bisa bertumpah ruah di jalan-jalan karena angin kencang tiba-tiba datang. Hal itu dikatakan oleh Kepala Desa Melung, A Budi Satrio. Pada Kamis (26/1/2012) sore langit di atas Desa Melung sangat cerah. Meski rumahnya tak beratap lengkap, pria separuh baya ini bisa tersenyum lebar. “Seperti berada di Planetarium. Kita bisa tidur di ruang tamu sambil menatap bintang-bintang. Indah sekali,” kisahnya. Situasi berubah pada Jumat dinihari pukul 02.00 hujan turun. Semua warga bangun untuk menyelamatkan barang-barang berharganya, terutama alat elektronik. Mereka harus basah kuyup karena sebagian besar atap rumahnya rusak diterjang angin. Bagi Budi Satrio, bencana yang menimpa desanya menjadi bahan pelajaran yang sangat berharga. Warga bisa belajar tentang pengetahuan penanganan bencana. Dia juga bahagia karena pada saat bencana semangat kebersamaan warga justru makin menguat. “Ini laboratorium bagi kami untuk belajar tentang penanganan kebencanaan. Kita harus melihat seluruh hambatan dan kendala penanganan bencana menjadi tantangan yang penting untuk dicari jalan keluarnya,” tambahnya. Warga Desa Melung berharap PLN bisa cepat menangani masalah layanan listrik. Tanpa listrik, semua orang harus bekerja ekstra keras, baik dalam siaga keamanan maupun penanganan korban bila sewaktu-waktu angin kencang datang Sumber...

Read More

SMS Center dan Posko Bencana Angin RIbut

(Melung 28 Januari 2012), bertempat di Kantor Balai Desa Melung tengah diadakan workshop scm “sms center melung” fitur baru dalam sid(sistem informasi desa). fasilitator yossy suparyo dan pri anton subardio dari BlankOn Banyumas dan pewarta higoss yang diikuti oleh kades melung, kades kutaliman, dan kades beji beserta perangkat pemdes melung. untuk menanggapi kesulitan penyaluran informasi waspada bencana angin ribut yang terjadi di desa melung. perangkat – perangkat desa yang hadir dan mencoba teknologi scm “sms center melung” dalam workshop mengikuti dengan penerapan langsung. menurut margino, sekdes pemdes melung, dengan scm diharapkan penginformasian terhadap warga cepat tersampaikan. “wahh, apik kiehh dengan teknologi scm ini saya dengan mudah dan cepat dapat memberikan dan menerima informasi terkini warga desa melung melalui sms,” ujarnya. pemdes melung bersama tagana(taruna siaga bencana) desa melung sebelumnya sudah mewaspadai akan bencana ini dengan membuat posko bencana angin ribut. warga desa melung sangat terbantu dengan adanya posko tersebut dengan ditambahnya scm ini benar membantu warga dalam penginformasian. hal itu disampaikan juga oleh budi satrio, kades desa melung. dengan ditambahkannya fitur baru yang sudah siap berjalan ini akan sangat membantu dalam informasi warga mewaspadai bencana angin ribut. “dengan scm ini dengan mudah saya dapat memonitoring keadaan warga desa dan desa melalui sms dan menghubungkannya dengan posko bencana agar terjadi kesinambungan informasi dan penanganan,” ujarnya. usaha posko bencana angin ribut dan scm teknologi penyampaian cepat informasi dengan sms ini diharapkan...

Read More

Mereka Tidak Dipusingkan Lagi Masalah Pupuk Urea

Anjloknya harga gabah hasil panen serta mahal dan langkanya pupuk serta obat-obatan adalah masalah rutin petani. Ini seolah sudah menjadi “takdir” yang digariskan bagi mereka yang terus berulang dan terjadi setiap tahun. Namun tidak demikian dengan petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Permata Sari di Desa Tirtosari, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. Semua kepahitan itu hanyalah masa lalu belaka. “Walau harga gabah dan beras di pasaran naik turun tidak menentu, gabah dan beras milik kami tetap laku terjual dengan harga tinggi, Rp 3.500 per kilogram dan Rp 6.000-Rp 7.500 per kg,” ujar salah seorang petani, Haryadi. Gapoktan Permata Sari beranggotakan 72 petani sejak tahun 2004 menerapkan sistem pertanian semi-organik untuk secara perlahan melepaskan diri dari ketergantungan pupuk kimia. Luas tanam padi dengan sistem ini mencapai 50 hektar dan jenis padi yang ditanam adalah jenis mentik wangi susu, varietas lokal di desa tersebut. Dengan sistem ini, mereka hanya memakai pupuk kimia jenis phonska, sebanyak dua kuintal per hektar. Umumnya petani membutuhkan 3-4 kuintal phonska per hektar. Pupuk lainnya adalah pupuk kandang, sebanyak 10 ton per hektar, serta Ferinsa (fermentasi urine sapi) sebagai pupuk hijau, sebanyak 1-1,5 liter per hektar. Saat memakai pupuk kimia, biaya yang dikeluarkan petani hingga panen sekitar Rp 1 juta per hektar, dengan sistem pertanian semi-organik Rp 1,3 juta. Di Banyumas, sekitar 100 petani di Desa Melung, Kecamatan Kedung Banteng, menerapkan sistem pertanian organik sejak 2009....

Read More

Membantah Kabar Tentang Adanya Latihan Teroris di Wilayahnya

:Selasa, 12 Juni 2007 – 16:20 | Kategori: Hukum-kriminal Merdeka.com – Kepala Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas, . “Memang desa ini sering digunakan untuk latihan oleh Brimob, pecinta alam dan aktivitas lainnya, tetapi saya tidak pernah mengetahui atau melihat adanya kegiatan yang mencurigakan di sekitar sini,” kata Kades Melung, Budi Satrio, di esa Melung Banyumas, Selasa. Menurut dia, hanya satuan Brimob yang selalu mengajukan izin atau pemberitahuan, apabila hendak latihan di Desa Melung. “Untuk kelompok atau organisasi lain, jarang mengajukan surat izin,” kata dia. “Selain itu tidak ada keluhan atau laporan dari masyarakat tentang adanya kegiatan yang mencurigakan sehingga desa ini dapat dikatakan masih aman,” katanya. Dia mengakui sebagian wilayah di desanya berupa hutan, baik hutan rakyat maupun hutan yang dikelola Perhutani. “Seperti hutan di Gunung Agaran dan Gunung Botak merupakan hutan rakyat, sedangkan yang biasa digunakan untuk latihan adalah hutan Perhutani di Gunung Cendana,” kata dia. Ia mengatakan, jalan untuk menuju Gunung Cendana biasanya melalui Grumbul Kalipagu di Desa Ketenger, Kecamatan Baturaden Banyumas....

Read More

FACEBOOK

https://www.facebook.com/pasarmelung.id/

Pasar Melung

Pengalaman di Desa Melung