Penulis: admindesa

Kesenian Kotekan Lesung

Lesung merupakan alat untuk menumbuk padi. Terbuat dari kayu yang berukuran seperti pohon utuh. Kemudian dilubangi bagian tengahnya, persis seperti perahu. Panjangnya kurang lebih 2 – 3 meter. Dahulu belum ada mesin penggiling padi, untuk memisahkan bulir-bulir beras dan sekam diperlukan alat. Alat inilah dinamakan lesung. Lesung tersebut digunakan untuk menguliti gabah menjadi beras dengan dibantu alat yang namanya alu sebagai penumbuknya. Kerukunan dan keguyuban kala itu masih sangat kuat terjaga. Jika ada salah seorang warga desa yang mempunyai khajat entah itu mengawinkan anak atau mengkhitankan anak tentu membutuhkan banyak beras sebagai pelengkap upacara syukuran. Dari situlah kemudian warga desa bahu-membahu membantu menumbuk beras atau “nutu”. Karena bentuk lesung seperti kentong (berlubang) maka ketika alu sebagai alat penumbuk dijatuhkan pada lesung akan menimbulkan bunyi yang nyaring. Sambil menunggu teman untuk mengawali menumbuk padi maka dimulailah kotekan. Kotekan juga sebagai isarat bahwa ada salah satu warga desa yang sedang mempunyai hajat. Setelah mendengar adanya kotekan maka akan berdatangan warga desa untuk membantu menumbuk padi. Setelah menumbuk padi selesai biasanya mereka melakukan kotekan sebagai hiburan. Perpaduan suara dari setiap sisi lubang lesung menghasilkan irama yang sangat merdu ditelinga. Apalagi disertai dengan nyanyian dengan menyesuaikan dengan irama yang ada. Berikut adalah lirik tembang kotekan, yang termasyhur pada saat itu. “Lesung jumengglung sru imbal-imbalan. Lesung jumengglung manengkeng manungkung, ngumandang ngebaki sak jroning padesan. Tok tok tek tok tok gung tok tok tek tok...

Read More

Bukit Agaran

Bukit Agaran dulunya hanya sebuah bukit sebagaimana umumnya bukit. Deretan semak belukar menggerombol, sangat sulit untuk dilalui. Bukit yang hanya dikenal oleh masyarakat Desa Melung dan sekitarnya sebagai tempat untuk mencari rumput, dan kayu bakar. Sebuah perbukitan yang terletak di Grumbul Depok Desa Melung Kecamatan Kedungbanteng, berbatasan dengan Desa Windujaya. Bukit Agaran persis berada disebelah selatan pemakaman umum milik desa, yang merupakan tanah milik orang Kutaliman. Sekitar 2 (dua) bulan yang lalu bermula dari ngobrol timbulah ide dari beberapa warga Desa Melung yang melihat  potensi  wisata yang tersembunyi dibalik Bukit Agaran tersebut.  Menghubungi pemilik tanah dan meminta ijin adalah langkah awal menjadikan Bukit Agaran sebagai tempat wisata. Selanjutnya merapikan rumput dan membuka akses jalan agar mudah dilalui mencapai bukit tersebut. Tak ketinggalan membuat tempat-tempat bagi pengunjung untuk mengabadikan kesempatan berkunjung melalui foto. Keunggulan dari Bukit Agaran adalah pengunjung bisa menyaksikan Kota Purwokerto dan sekitarnya dari atas bukit. Hampir sebagian Kota Purwokerto terlihat dengan jelas, apalagi jika malam hari. Gemerlap lampu-lampu kota terlihat sangat indah. Udara yang masih segar juga menjadikan Bukit Agaran mulai banyak dijadikan pilihan untuk piknik dan camping. Jalan menuju Bukit Agaran juga tidak terlalu ekstrim dapat ditempuh dengan jalan kaki kurang lebih 5-10 menit. Melalui jalan setapak yang cukup...

Read More

Kunjungan SMA Bunda Hati Kudus Grogol Jakarta

Desa Melung kembali akan kedatangan tamu yang cukup banyak dari SMA Bunda Hati Kudus Jakarta dengan melakukan kegiatan life in selama 4 hari yang rencana akan dimulai pada tanggal 21 September 2018 sampai dengan tanggal 25 September 2018.  Sekitar 112 siswa akan hadir dan tinggal bersama warga desa. Pemerintah Desa menyiapkan sebanyak 60 rumah tinggal menyebar di setiap gerumbul yang nantinya dalam 1 rumah ditempati 2 orang siswa. Renacanya dari 112 siswa tersebut akan ditempatkan di 4 grumbul.  Untuk Grumbul Depok disiapkan 16 rumah, Kaliputra disiapkan 15 rumah, Melung disiapkan 15 rumah dan Salarendeng 12 rumah. Untuk menampung tamu seperti biasanya ada persyaratan yang harus dipatuhi oleh warga terutama dalam kebersihan dan keramah tamahan dalam menyambut tamu, walaupn kegiatan seperti ini sering kali dilakukan oleh Desa Melung baik tamu dari dalam negeri sampai dengan tamu manca negara. Selama tinggal kurang lebih 4 hari siswa akan mengikuti aktivitas tuan rumah yang di tempati siswa baik.  Apabila Kepala Keluarga yang memiliki mata pencaharian petani maka siswa wajib mengikuti aktivitas seharian berada di sawah begitu juga dengan usaha yang dilakukan kepala keluarga dalam bidang yang lain. Selama berada di Desa Melung siswa tidak diperkenankan membawa alat komunikasi, sehingga siswa benar-benar merasakan kehidupan di pedesaan demikian yang di syaratkan oleh para guru pendampingnya. Dukungan warga dalam mewujudkan sebagai Wisata Desa menjadi hal yang sangat penting sehingga semakin banyak tamu-tamu akan hadir ditengah=tengah masyarakat dan...

Read More

Jalan Melung-Ketenger Ditutup

Melung 18 Agustus 2018, Jalan Melung-Ketenger untuk sementara ditutup. Penutupan jalan tersebut dikarenakan sedang ada perbaikan dan pengerukan jalan. Lintasan pipa (gorong-gorong) PLTA (pembangkit listrik tenaga air) yang berada diatas jalan dengan ketinggian 3,4 meter menjadi alasan utama pengerukan jalan. Rencananya ruas jalan tersebut akan dikeruk sedalam 1 meter tepat dibawah pipa PLTA. Sementara panjang pengerukan jalan kurang lebih sekitar 50 meter. Pengerukan jalan itu sendiri ditargetkan selesai selama enam hari. Sementara kendala yang dihadapi adalah armada (truk) yang mengangkut tanah hanya satu. Lokasi pembuangan tanah juga menjadi salah satu penyebab kurang lancarnya dalam pekerjaan pengerukan...

Read More

FACEBOOK

https://www.facebook.com/pasarmelung.id/

Pasar Melung

Pengalaman di Desa Melung