Melung, 2 Maret 2013 sekitar Pukul  06.00 Wib seorang bapak dengan wajah gembira tampak berjalan dengan semangatnya menuju kesawah dengan menenteng tas kresek juga sabit, ketika ditanya ( wah gasik temen rika mring ngendi man,,? ) dengan semangat juga iya menjawab ( arep mring sawah ) dalam hati bertanya tumben nga biasanya pak Warto ini berangkat kesawah lebih awal,  tutur  Darsono (42) Ketua RT 03/01, setelah banyak ngobrol ternyata pak Warto ini jebul mau panen.

Pak Warto (36) warga RT 03/01 yang juga Perangkat Desa sedang bergembira sekali karena setelah lima bulan menunggu akhirnya apa yang ditunggu datang juga.  Panen padi disawah garapanya yang merupakan upah dari iya bekerja sebagai Perangkat Desa, ketika ditanya berapa hasil panenya ia pun menjawab dengan santai “ngga tentu pak habis sawah disini kan merupakan sawah pegunungan yang hasilnya tidak sebanding dengan sawah di daerah kota, selain itu jga sawh disini merupakan sawah tadah hujan,  dapat sepertiga dari hasil sawah di kota dengan luasan yang sama saja sudah bagus banget.

Ia juga menceritakan selain berapa luasan garapanya juga hasil yang ia dapatkan, kalau di itung itung si ya rugi garap sawah di desa, karena tidak seimbang antara biaya produksi dengan hasil yang saya dapatkan, karena biaya produksi yang sudah cukup tinggi juga pupuk yang harganya mahal  juga. Untuk membiayai hidup sehari – hari keuarganya sebagai Perangkat Desa ia merasa kerepotan sekali karena memang pendapatan yang ia dapatkan istilahnya masih besar pasak daripada tiang, “menang gaya” tapi dengan rasa tanggungjawab yang di emban sebagai abdi masyarakat saya akan tetap bekerja sesuai sumpah dan janji saya, saya percaya ketika apa yang saya kerjakan dengan iklas dan tanggungjawab yang tinggi pasti akan ada hasil yang baik pula, rejeki tuhan sudah mengaturnya, sambil menutup percakapanya sambil guyonan ia pun mengatakan “mangkat gasik rejeki apik, bekerja keras rejeki deras” begitu ia dengan wajah sumpringahnya,